REVITALISASI SENI BUDAYA STRATEGI JITU MENANGKIS SERANGAN GLOBALISASI
(Sumbangan Pemikiran)
Oleh: Eka Priadi Kusumah
Prolog
Kata “Revitalisasi” menjadi issue central dalam upaya menumbuh kembangkan seni dan budaya lokal Karawang, Kata revitalisasi di maknai sebagai upaya untuk memvitalkan kembali dengan cara menghidupkan dan memperkenalkan kembali entitas seni tradisi yang telah lama menghilang dari khasanah seni budaya lokal karawang.
Sadar akan kondisi “mati suri”nya seni tradisi karawang, kebutuhan akan Revitaslisasi seni dan budaya menjadi sesuatu yang urgent sifatnya. Terlebih pada saat ini karawang telah mejelma menjadi kota urban baru yang akan membenamkan seni tradisi ke ujung penghabisan. Fenomena seni dan budaya barat sudah menjadi konsumsi publik dalam kesehariannya. Yang secara massive di propagandakan dalam bentuk-bentuk komunikasi yang menggurita dalam ruang publik sehingga menutup kesempatan seni dan budaya lokal untuk tampil ke permukaan.
Tentunya sedikit pemikiran yang tertuang dalam tulisan yang singkat ini membahas issue revitalisasi seni dalam diskursus seni budaya lokal.
Dalam mewujudkan hal ini sejatinya di butuhkan langkah-langkah konkret dan terencana dalam menjalankan strategi me-revitalisasi seni dan budaya Karawang karena revitalisasi merupakan kegiatan yang sangat kompleks dan melalui beberapa hal sebagai berikut :
Study dan riset,
Mengawali kegiatan Revitalisasi seni dan budaya tentunya di butuhkan upaya riset dan study yang komprehensif baik wujud artifak maupun wujud seni itu sendiri dan pelaku seni yang masih ada yang terkait langsung dengan objek seni yang akan di revitalisasi.
Ini dalam rangka telaah fenomenologi, menginventarisir dan melakukan pemetaan baik secara etika, sosiologi, psikologi budaya, antropologi (tari, teater,ethnomusicology,musicology), arkeologi, estetika, dan disiplin ilmu yang berhubungan dengan seni budaya secara holistik.

Revitalisasi fisik,
Dilakukan secara bertahap, meliputi perbaikan dan peningkatan kualitas Seni (karya seni), penyediaan ruang ekspresi pertunjukan (gedung kesenian, panggung dll) penataan dan penyediaan infrastruktur berkesenian (instrument, gamelan, pelatihan nayaga/player) sistem penghubung/komunikasi, tanda dan ruang (kostum,aksesoris). Mengingat citraan visual sangat erat kaitannya dengan konsep pertunnukan karya seni, khususnya dalam interaksi antara karya seni dengan penonton, intervensi fisik ini perlu dilakukan.
Isu menumbuh kembangkan seni dan budaya tradisi (art and culture sustainability) pun menjadi penting, sehingga intervensi fisik sudah semestinya memperhatikan konteks ramah seni dan budaya seperti pakem dan sejarah yang melatar belakangi munculnya seni dan budaya. Perencanaan fisik pada karya seni tetap harus dilandasi pemikiran jangka panjang.
Sosialisasi
Menumbuh kembangkan seni dan budaya yang menjadi milik bersama (common haretage) tentunya juga harus di tujang oleh promosi yang gencar melalui saluran informasi yang tepat dan berkesinambungan, bisa melalui jalur formal maupun nonformal.
Rehabilitasi ekonomi

Revitalisasi yang diawali dengan proses peremajaan artefak harus mendukung proses rehabilitasi kegiatan ekonomi. Perbaikan dan pembangunan fisik pada ruang ekspresi yang bersifat jangka pendek, diharapkan bisa mengakomodasi kegiatan berkesenian informal dan formal, sehingga mampu memberikan nilai tambah bagi sentra seni dan budaya.
Dalam konteks revitalisasi perlu dikembangkan fungsi campuran yang bisa mendorong terjadinya aktivitas seni dan budaya, ekonomi dan social dan menjadi “vitalitas baru”.

Revitalisasi organisasi/institusional

Keberhasilan revitalisasi seni dan budaya akan terukur bila mampu menciptakan lingkungan yang kondusif untuk berkarya dan berekspresi serta mampu memberikan daya tarik (interesting), jadi bukan sekedar menggali dan memperkenalkan kemudian menghidupkan kembali seni budaya yang sudah “mati” (re-born).
Maksudnya, kegiatan tersebut harus berdampak positif serta dapat meningkatkan dinamika dan kehidupan sosial masyarakat/warga (public realms). Sudah menjadi sebuah tuntutan yang logis, bahwa kegiatan perancangan dan pembangunan karakter seni dan budaya untuk menciptakan lingkungan sosial yang berjati diri (character building) dan hal ini pun selanjutnya perlu didukung oleh suatu pengembangan institusi yang baik terutama stake holder yang terkait langsung dengan khasanah seni dan budaya.
Proses seleksi (kurasi) terhadap bentuk karya seni penting untuk di lakukan, dimana karya seni mendapat tempat dan posisi dalam kelayakan dan kepatutan yang bisa dipertanggungjawabkan baik dalam estetika maupun etika, sehingga dapat merangsang proses kreatifitas dan menumbuhkan apresiasi yang kondusif bagi perkembangan seni dan budaya.
Karawang Mei 2011