Posts from the ‘Puisi’ Category

DIALOG ILALANG

DIALOG ILALANG

SEMILIR ANGIN BERHEMBUS TIUPKAN CERITA ILALANG
TARIAN BAKUNG DIHALAMAN JIWA IRINGI KELUNYA KEBISUAN MAKNA
..TIDAK SEPERTI KUPU-KUPU YANG TERBANG DENGAN SAYAP KEBEBASANNYA..
ILALANG GELISAH MEMAKNAI AWAN HITAM DALAM KEMARAUNYAsar&kplp 024

KASMARAN TELAH PERGI BERSAMA HISAPAN WAKTU
SISAKAN KERINDUAN POHON PERDU DIKEDALAMAN HASRAT
WALAUPUN TERSIRAT KEMAUANNYA DALAM PESAN YANG TERGURAT MEMBIRU..
TERNYATA KATA-KATA MASIH TERKUNCI DALAM ANGAN DAN KEINGINAN

KITA TIDAK SEDANG MEMBICARAKAN CINTA
WALAUPUN PELANGI TELAH MENGGARISKAN WARNA DICAKRAWALA
NAMUN KITA DITITIPKAN OLEH WAKTU TENTANG GARIS PERJALANAN
DIMANA KUPU-KUPU TERBANG DENGAN SAYAP KEBEBASANNYA

POHON PINUS YANG MENGHUNUS BERTANYA KEPADA WAKTU
SIAPA YANG TELAH MENGISI TELAGA DENGAN AIR KEBIMBANGAN
HANYA KEBISUAN YANG TERLONTAR..
DAN KEHENINGAN JIWA YANG TERPAPAR.

SAMARINDA 05/09

PERDU BERCUMBU

DI BALIK KERUDUNG EMBUN YANG MENGAMBANG
PAGI INI BERAU SETIA MELANTUNKAN NYANYIAN KASMARAN
MENYUSURI TAPAK-TAPAK KAKI TELANJANG ANAK SUKU DAYAK PUNAN
BIBIRNYA TUMPAHKAN SEJATINYA RINDU

MASIH DALAM PELUKAN BERAU..
HATIKU MERACAU HINGGA MENGUSIK BUKIT YANG TELAH KOSONG
DULU DISANA..KAMI LAHIR, TIDUR DAN BERMAIN
HINGGA DRAMA PERCINTAAN TERDALAM BERAWAL

MASIH DALAM DEKAPAN BERAU
JIWAKU KERING DAN TANDUS..
HINGGA PERAHU PENGHARAPAN KANDAS DALAM PUALAM LAPUK
JIKALAH AKU HIDUP DALAM CINTANYA…KAN KULUMAT HABIS OASEMU

DUDUK BERDUA DENGAN PERAWAN BERAU
MERAJUT KATA MENYULAM GITA
JANJI KITA MEMADU HASRAT DALAM BELANTARA ILALANG
MEMAGUT RONA MENTARI YANG MERAH MEREKAH

SAMARINDA 05/09

Iklan

TERBANGLAH..BURUNG MERAK KU

TERBANGLAH

SKETSA WAJAHMU MASIH MENGGURAT

AUMAN SUARAMU MASIH MENGGELEGAR

TAJAMNYA TATAPMU MASIH MENUSUK

BIARPUN HARUBIRU TERSEKAT DALAM LABIRIN METAPORA

Willibrordus Surendra Broto Rendra

Willibrordus Surendra Broto Rendra

BURUNG-BURUNG TERBANG MENCARI DAUN DAN RANTING

BERSIAP MEMBANGUN SARANG EMPUK DARI ANYAMAN ASA

SAMBUT SI BURUNG MERAK KEMBALI KE HARIBAAN

PADUAN DOA DAN UCAPAN TERBUNGKUS DALAM PUTIHNYA AWAN

BERLAKSA-LAKSA KATA TERCECER DALAM CARIK-CARIK KERTAS USANG

MENUNGGU MAKNA BARU YANG MASIH TERSISA……..

DARI HARI KEMARIN UNTUK MATAHARI ESOK

YANG MENYENGAT JAMRUD KHATULISTIWA HINGGA FAJAR SURUT

WAHAI SI BURUNG MERAK…..

TELAH KAU BAKAR SEMANGAT JIWA DARI KEPAK SAYAPMU

TELAH KAU HEMPASKAN DINGIN DI SANUBARI …

CAHAYA DALAM WARNA BULUMU HIASI SISA HARI INI DAN ESOK

KAU TELAH AJARKAN TENTANG SEJATINYA PERJUANGAN

SEPERTI MATAHARI YANG SELALU MEMANDU MATA HATI

JIKALAU BINTANG-BINTANG MERENUNG DALAM HYMNE-NYA

RONA MALAM TELAH PULAS DALAM TIDURNYA YANG PANJANG!

NAMUN AKU SUDAH SIMPAN BULU EKORMU YANG TANGGAL

KUSIMPAN DALAM DEKAPAN TERDALAM

KAN KU WARISKAN BAGI TERANGNYA MAYAPADA

HARI INI, ESOK LUSA DAN DI TITIK NADIRKU!

(DEDIKASI WS. RENDRA)

EKA P KUSUMAH

PUISI UNTUK BORNEOKU

TERAYUN f9fd87339b5d46c4

Nampak dikejauhan srengenge merayap tegap
Aku malah terdiam dalam kesepian gulana
Riak air sungai Mahakam lembut mengusap retina mataku
Kubiarkan sebuah sajak larut dalam buihnya,

Dibukit yang tandus, pucuk akasia muda menjentik lambikan kepiluan..
Bahkan … tak bergeming sisa cakaran sang penakluk
Lalu,…desahan nafas sang penggoda erat mendekap dalam pekatnya bebatuan
Biarkan…biarkan ia menyapa dalam keheningan!

Di ujung jalan setapak yang curam, berdiri kaku pemahat batu..
Dilemparkanya segenggam batu hitam sambil meracau..
Habiskan…habiskan..hingga tak tersisa … lalu pergilah..
Namun jangan kau sisakan tangisan dalam kabohongan

………..Sisakan tandus mu untuk ku!

(Mahakam 05-2009)

NYANYIAN BEBATUAN

Air sungai meliuk ikuti irama nyanyian bebatuan…
Disirami jatuhnya daun-daun muda yang tua karena terpaksa
Tidak jauh dari persemayaman leluhurnya
Ranting yang tinggal sehasta raib dalam tajamnya gigi gergaji

Sungguh sepi pagi ini,
Tak terdengar merdunya nyanyian pesut,

Di hulu…kabarkan angin kepalsuan hingga ke hilir

Langit tampak muram berselendang awan pekat
Angin kering menghujam senja, tepat dikening borneo
Nampak siluet kepiluan dalam pundak yang luka karena rayuan

Lalu pertapa tua meratap dalam keheningan
Bersemedi dalam sungainya yang tenang
Lupakan ingkarnya raja kelana
Yang telah meluluh-lantakan nyanyian bebatuan

Semut hitam telah lama pergi bersama kupu-kupu
Mencari sarang baru hingga ke ujung mimpi dinihari
Kini waktu telah menelannya lumat hingga diujung kerongkongan

(Samarinda 06-2009)

DIANTARA GELISAHNYA AWAN

DIKEDALAMAN

Diantara gelisahnya awan……….

Dan gemuruhnya badai jiwa

Samar bayangmu melintas dicelah sukma

Perlahan…..,anggun,…lugas,..selaras seperti paras andromeda.

Walau dikejauhan, matahari terus saja,..dan tak bosan menatapmu!

Aku terus sembunyi dalam dekapan rembulan.

Belajar puisi cinta pada antariksa yang flamboyan

Hendaklah kau menerima apa adanya setangkai bunga metafora

Janganlah tidurmu kau hiasi dengan rajukan semilir angin…

Tapi mendekatlah pada kenyataan …..

Bahwa pungguk tidaklah akan mencitai sang rembulan.

Angin masih saja menyibakan rambutmu yang tertangkap cahaya matahari..

Membuatku mabuk,…..seperti nahkoda kehilangan arah haluan

Kau,…kamu,…,ya..tentunya kamu seorang … telah …menawan hasratku dikedalaman.

Agustus 99.

SECANGKIR MAKNA

Sabtu siang , mendung menggelayut dipucuk-pucuk pinus yang melambai.

Aku larut dalam semilir wewangian alam

Tak lama setelah kau menyuguhi aku secangkir makna cinta

Yang rasanya….bintangpun tak sanggup untuk menggambarkannya.

Pohon perdu bernyanyi merdu……

Sambut buaian cinta

Hilangkan kebekuan dalam pualam jiwa

Sept 99

PRELUDE

Kini aku terdampar pekatnya smaradahana

Walau kau hanya sisakan setangkup senyum

Cukuplah untuk malam yang tinggal sepenggal

Lalu kau bertutur tentang perjalanan….

Genggamanmu hentikan bayangan,

Andaikan waktu dapat bicara…

Mestinya ia akan berjanji.

Kini kita terpejam di penghujung malam

Hanya bisikan angin yang terdengar

Dan kita berpegang erat pada kereta takdir

Cikini, Oktober 1997

PERON

Kereta mu tak kunjung tiba

Aku terkunci dalam penantian

Hingga peluit ditiupkan berulang…

Diperon langkahku kaku terhenti…

Ketika rambutmu sibakan kebisuan

Berlari aku kejar kereta mu

Lamunanku tersadar oleh rayuan rel yang meliuk berkelok

Tatkala penyair jalanan lantunkan rayuan parau..

Disanalah kau duduk dalam pusaran ketidakpastian

Kau dan aku menanti waktu …

Kau dan aku terdiam dalam gelisah kata..

Kau dan aku porak-poranda oleh kata-kata yang membisu

Lalu bayanganku menghampiri gelisahmu….

Tanpa ragu kau katakan….

Ciumlah aku hingga kereta ini kembali!

Cikini, Nopember 1997

SILUET

Di tepian danau kau menari

Hanya dibalut selimut tipis halimun yang mengambang

Lekuk tubuhmu ceritakan perjalanan

Sampai titik kulminasi ini aku terhenyak

Diantara desahan nafasmu

Aku… merenung,

Sulit gambarkan siluet dari lekuknya kegamangan birahi

Meraja……dan melingkupi kesadaran.

Tinggal detak yang tersisa dalam dada

Segalanya nyata dalam gambaran angan

Seperti riaknya danau

Yang hijau kebiruan dalam dekapan

Jatiluhur feb 1996

DINDA

Masih teringatkah dinda tentang masa yang kerap meneggelamkan kita?

Masih teringatkah dinda nyanyian pelog atau slendro dalam pupuh yang selalu kita gubah?

Lupakah dinda akan sapaan ilalang yang selalu saksikan percumbuan kita di saat meleburkan asmara dikedalaman senja?

Tidakah dinda merasa bahwa selama ini kata-kata tidaklah cukup untuk buktikan segenap rasa dalam renungan malam?

…………dinda hanya senyum,

Hanya menebar tatapan dalam, hingga keraguan itu terkelupas.

Dinda, selalu saja terucap kata tentang fananya cinta diantara celah makna antara hidup dan matinya rasa!

Dinda, anggunmu dalam tersenyum adalah jelmaan dari karatnya waktu yang menanti habisnya syahwat yang terumbar langit!

…hingga awan dan mega-mega berarak sambut tiupan cinta dari surga!

…hingga tiada mungkin lagi aku bertanya tentang cinta padamu dinda!

Karawang, des 2000

SEMESTA KETIDAKSADARAN

SEMESTA KETIDAKSADARAN

EKA P KUSUMAH

AKU ADALAH YANG MELAYANG DILUAR BATAS SEMESTA DINDING KESADARAN

MATAHARIPUN TAK SANGGUP MELANTAKAN KEINGINAN BISU

DARI POSE-POSE PEMIKIRAN YANG TELANJANG, LIAR, NAKAL, NANAR…….

MERANGKUL HINGGA DIUJUNG PELUPUK BINTANG.

AKAL DAN KESADARAN DI BELAH DAN DICINCANG DALAM WAJAN KEMATIAN KATA-KATA, HINGGA ASING, MASA LALU, JEDA, TERBURAI, PECAH!… DALAM KECEPATAN KETAKBERATURAN.

MENATA SERPIHAN WAKTU MENJADI CITRAAN YANG MEMBIUS, MENUSUK UBUN-UBUN HINGGA TIDAK ADA TITIK BALIK, TIDAK ADA WAJAH YANG SATU UTUH DALAM DIMENSI,….KACAU, MEMBENTUK WUJUD ABSURDITAS WAKTU YANG MELINGKAR-LINGKAR BERKELEBAT BERGANTIAN DENGAN KECEPATAN YANG TAK MAMPU DITANGKAP RETINA KUMAL.

LALU…… SEMUANYA MUNCUL DAN MENGHILANG DALAM BENTUK ANGKA MATRIKS NOL DAN SATU YANG BERAT MENINDIH RUANG HAMPA TANPA KATA DAN BAU.

AKU ADALAH SEMESTA KESEMERAWUTAN KESADARAN

AKU ADALAH YANG HIDUP DIANTARA YA DAN TIDAK!

AKU ADALAH YANG MENGHIDUPKAN PILIHAN INI DAN INI JUGA DAN ITU!

TAK ADA ENGKAU SELAIN AKU!

SEPERTI WAKTU YAN KUBELI DENGAN MIMPI MU!

SEPERTI TIDUR YANG KAU GADAIKAN

SEMUANYA TANPA GERAK DAN LAKU YANG KUATUR DALAM KEBUTAAN MAKNA.

LALU KINI TERSISA PERTANYAAN JEDA,…. SIAPA KAU?

PUISI KATANYA

EKA P KUSUMAH

GERIMIS

Senja tersiram hujan, dipenghujung nopember

Setelah puisi ku larut dalam segelas capucino

Itupun tak lama setelah dedaunan bercerita tentang bunga yang ranum dalam kelopaknya

Lalu……….. kunang-kunang menyapa dalam sisa gerimis.

Masih adakah nyanyian dalam kehangatan balutan sutera

Ketika  dinginya waktu beringsut dicakrawala.

Nopember 1998

MASIH JANUARI

Masih saja berdiri mencari garis-garis yang memanjang saling memotong

Masih saja tertegun dalam balutan bait-bait keraguan

Masih saja bernyanyi lantunkan symphoni memabukan

Dan diantara beningnya cahaya matamu

Kutangkap …. aroma harumnya keniscayaan

Membelah nurani hingga tak berujung

Menggoda ….. landai dan meruncing.

Jan 00

RINAI

Rinai …..

Haruskah aku bertanya tentangnya?

….. hanya terdiam dalam kepekatan.

Rinai ……

Dimanakah gerangan kasihnya?

….. hanya bayangan yang coba menjawab dengan kebisuan.

Rinai …. ..

Akankah ia berkunjung padaku?

….. hanya ketika pintu itu diketuk oleh waktu.

Rinai ……..

Bolehkah ciuman membangunkan tidurnya?

…… tidak hanya untukmu,…. dan bukan juga untuknya!

Rinai ….., lalu,……

Biarkan aku terbakar ole api cemburumu…

Maret 00

PENYAIR TUA

Ia sudah lupa cara menata kata

Ia sudah lupa bagaimana bertutur

Ia sudah pula lupa menumpahkan semangkuk makna

Ketika ia tertidur bermimpi dalam lautan kosakata

Lalu ketika ia terbangun……..

Tak mampu lagi bertanya tentang arti semantik

……hingga hanya bertemankan matahari yang selalu setia

……hingga tinggal gunung bisu yang masih ajeg dalam duduknya

…..kemudian iapun bergegas untuk tidur dalam keabadianNya

April 2001