Posts from the ‘artikel’ Category

STRATEGI TEPAT MENGHADAPI MALAYSIA ADALAH DENGAN PENDEKATAN EVALUATIF DAN KONTEMPLATIF

STRATEGI TEPAT MENGHADAPI MALAYSIA ADALAH DENGAN PENDEKATAN EVALUATIF DAN KONTEMPLATIF

Suasana yang kian menegang pasca “klaim” malaysia terhadap beberapa karya seni dan budaya indonesia, diantaranya batik, angklung, tari pendet dan banyak lagi yang lainnya. Sangat memprihatinkan sekali kondisi yang mengemuka saat ini, emosi dan cacian terhadap negara tetangga kita tentunya tidak akan menyelesaikan masalah secara konkret. Diperlukan telaah dan keterbukaan pemikiran didalam mencari solusi yang tentunya akan berdampak positif bagi tumbuh dan berkembangnya seni dan budaya adi luhung yang selama ini kita junjung tinggi dan banggakan di kelak kemudian hari!.

gendang

gendang

Seperti yang dilakukan oleh Puluhan budayawan dan seniman yang tergabung dalam Mufakat Kebudayaan menyatakan keprihatinan yang dalam terhadap hubungan Indonesia dan Malaysia karena perebutan kebudayaan.

Keprihatinan tersebut tertuang dalam “Maklumat Agustus 2009” dan diserahkan pada pimpinan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, pada hari Rabu (2/9/2009). “Hubungan kebudayaan itu harus dilandasi rasa hormat dan saling menghargai karya budaya pihak lain, itu merupakan salah satu isi dari maklumat tersebut.
Sebuah kebudayaan yang dimanfaatkan pihak lain merupakan sebuah kebohongan besar,dan merupakan tindakan tidak etis, dan tidak beradab. “Apalagi untuk kepentingan ekonomis, ideologis tanpa mengindahkan adab dan kesantunan budaya yang sudah dipelihara bersama!

Diklaimnya sejumlah kebudayaan milik Indonesia oleh Malaysia menunjukkan bahwa pemerintah sebagai penyelenggara negara harus mampu dan merupakan tugas historis dan konstitusionalnya di bidang kebudayaan. “Kami menuntut dengan tegas kepada pemerintah, untuk sekarang dan masa depan untuk menempatkan kebudayaan dalam kebijakan dan program yang strategis mereka,”.

Seni dan Kebudayaan, harus diurus oleh figur atau pihak yang tidak terkooptasi oleh kepentingan ideologis, politis, atau bisnis, bahkan oleh kepentingan kelompok penggiat kebudayaan tertentu. “Kebudayaan mestinya diurus oleh profesional, bukan pihak yang dipilih berdasarkan pertimbangan atau jual beli politik belaka!.

Sudah saatnya kita lebih mengapresiasi tumbuh dan berkembangnya seni dan kebudayaan dengan lebih intens dan bekelanjutan, banyak fakta yang ada dihadapan mata kita seolah seni dan budaya tradisional kita terabaikan, sebagai contoh topeng banjet, ajeng dan lain-lain. Kondisi dan keberadaan seni tersebut “mati suri”, hidup egan mati tak mau!.

Dalam kesempatan ini KOSIM (Komunitas Seniman Muda Karawang) mengajak kepada segenap pelaku, penggiat, pemerhati dan penikmat seni dan budaya tradisional untuk bersama-sama memberikan kontribusi yang positif bagi kelangsungan seni dan budaya tradisional karawang, karena seni tanpa pendukungnya akan mati!.

KARAWANG KOTA URBAN BARU SEBUAH PERGULATAN SENI DAN BUDAYA TRADISIONAL DALAM WAJAN INDUSTRIALISASI

KARAWANG KOTA URBAN BARU

SEBUAH PERGULATAN SENI DAN BUDAYA TRADISIONAL

DALAM WAJAN INDUSTRIALISASI

Pesatnya pertumbuhan industri di Kab.Karawang sejak diterbitkannya Keppres Nomor 53 tahun 1989 tentang Pengembangan Kawasan Industri, Kabupaten Karawang telah ditetapkan sebagai daerah pengembangan kawasan industri. Jumlah industri pada tahun 2005 mencapai 503 unit, terdiri atas PMA 249 unit, PMDN 181 unit dan non fasilitas 73 unit. Jenis produk perusahaan tersebut di atas terdiri atas elektronika, otomotif dan logam, tekstil, kimia, pakaian jadi/konveksi, makanan dan minuman, furnitur serta aneka industri lainnya.Sektor industri di Kabupaten Karawang merupakan industri non migas. Peruntukkan lahan yang digunakan oleh kawasan industri, kota industri dan zona industri, meliputi : kawasan indusri seluas 5.837,5 Ha sudah terbangun seluas 2.250 Ha dengan jumlah pabrik sebanyak 124 unit; kota industri seluas 8.100 Ha sudah terbangun 2.442,8 Ha dengan jumlah pabrik sebanyak 223 unit dan cadangan industri seluas 7.100 Ha (sumber: BPS Karawang 2007).

Dari fakta dan data diatas kini karawang telah menjelma menjadi kota urban yang memiliki keragaman budaya yang kompleks (divergence of culture) ini merupakan imbas langsung dari perubahan perilaku budaya masyarakat karawang dari pola budaya agraris/pertanian menjadi pola budaya industri kapitalis. Telah terjadi “perang” hegemoni budaya dalam peta kehidupan masyarakat baik secara langsung maupun tidak langsung, sehinga efek “ter-alienasi-nya” seni dan budaya tradisional didalam khazanah modernisme karawang  kian memprihatinkan.

Di sisi lain kemajemukan budaya dapat menjadi modal dasar dalam proses pembangunan karakter dan jati diri budaya dalam masyarakat urban karawang, seperti terjadinya proses asimilasi/persilangan budaya melalui resapan sosial yang terus berkembang secara dinamis, baik dalam strata sosial maupun strata ekonomi. Perubahan sosial (social exchange) dalam keragaman latar belakang dan corak budaya serta gaya hidup (life style) yang di bawa oleh pendatang atau kelompok migran (pencari kerja) langsung berinteraksi dengan hegemoni budaya setempat yang telah lama eksis yaitu budaya pertanian (agraris).

Sikap terbuka dan menerima dari masuknya hegemoni budaya dan gaya hidup dari luar, tentunya akan sangat menentukan dari berkembangnya keragaman budaya yang akan memperkaya khazanah kebudayaan di kota karawang. Akan tetapi disisi lain perkembangan budaya karawang yang telah dulu eksis akan “tersisihkan” secara perlahan karena masuknya budaya “baru” dari luar yang mendistorsi secara sporadis sehingga memunculkan kelompok sosial yang menepi ke pinggiran kota (suburbanite) kemudian wilayah kota di dominasi oleh kelompok sosial baru yang menguasai secara ekonomi.

Mempertahankan seni dan tradisi sebagai produk budaya yang telah menjadi milik bersama masyarakat karawang secara turun-temurun (common heritage) tentu tidaklah mudah dalam arena yang semakin heterogen dan kompleks, apalagi di era industri seperti yang terjadi di karawang saat ini. Di butuhkan konsep dan pengkajian serta telaah yang mendalam dan komprehensif!

Situasinya memang memprihatinkan!, tidak sedikit seni tradisional yang sudah menghilang dan ada beberapa yang  mampu bertahan dengan kondisi “mati suri”. Dibutuhkan solusi yang mampu menumbuhkembangkan produk budaya secara berkesinambungan dan perlu diingat salah satu identitas diri dari sebuah wilayah adalah seni dan budayanya!.

Menyikapi arah perubahan yang tidak seimbang ini tentunya membutuhkan penanganan dari semua pihak dalam memacu akselerasi pola budaya yang selalu komit, konsisten dan peduli bagi tumbuh dan berkembangnya seni dan budaya karawang yang kelak menjadi tuan di rumah sendiri.

Tinjauan secara holistik dalam menumbuh-kembangkan kebudayaan tradisional dibutuhkan penanganan khusus, yaitu melalui jalur-jalur fundamental yang meliputi sarana dan prasarana penunjang seperti : gedung kesenian dan kebudayaan, kegiatan-kegiatan kesenian serta pelatihan sumberdaya kesenian, juga menciptakan iklim yang kondusif dalam khasanah budaya melalui  forum kajian seni dan budaya yang akan memberikan ruang untuk berlangsungnya proses interaksi dan apresiasi terhadap seni dan budaya tradisional.

Selain itu juga dibutuhkan lahir dan munculnya agen-agen perubahan (agent of change) dari komunitas dan lembaga swadaya masyarakat didalam mengkomunikasikan arah perubahan secara intensif dan swaguna bagi tumbuh dan berkembangnya seni dan budaya tradisional karawang.. Sehingga baik seniman maupun pendukung kesenian tradisional mampu bersaing dalam peta dinamika sosial yang terus menggerus eksistensi seni dan budaya tradisional.

Spirit untuk bersatu dalam keberagaman harus melandasi setiap gerak perubahan budaya didalam eksistensinya!, semangat tersebut merupakan hal positif didalam proses pembangunan jati diri dan karakter budaya karawang, kita harus siap dengan perubahan yang ekstrim menghadapi globalisasi informasi yang massive yang menghasilkan gaya hidup materialistik dan cenderung membuat sekat-sekat dalam ruang publik.

Munculnya komunitas-komunitas atau sosial grup harus disikapi dengan keterbukaan dan saling toleransi didalam berkomunikasi secara horisontal sehingga menjauhkan dari munculnya gesekan sosial yang akan memicu bangkitnya etnosentrisme didalam struktur bangunan sosial dan budaya karawang.

Meninjau kembali ruang-ruang seni dan budaya yang secara konkret memberikan kontribusi terhadap perkembangan pembangunan watak dan jatidiri karawang menuju kea rah yang lebih baik dan maju, dengan mengoptimalkan peranannya didalam lingkaran sosial secara terintegrasi.

Tidak dapat dipungkiri bahwasannya perkembangan teknologi dan informasi yang begitu pesat, telah jauh meninggalkan  ranah pemikiran “tradisional” dan kolot, akan tetapi mempertahankan seni dan budaya dalam kekeinian menjadi tantangan tersendiri ketika pesan-pesan moral yang telah kering dalam perikehidupan menjadi oase yang akan mampu menjawab tantangan dalam membangun karawang menuju yang lebih baik.

Eka Priadi Kusumah

GENERASI DIGITAL (terbelenggu dalam kebebasan)

alur pemikiran dalam analogi konstruksi infrastruktur

alur pemikiran dalam analogi konstruksi infrastruktur

Saya tercengang ketika sadar akan apa yang sedang terjadi pada masa sekarang ini, ketika generasi sekerang yang lahir di era teknologi digital sangat ekstrim dalam perkembangannya!. tidak terbayangkan bila pada saatnya nanti tulisan tangan mungkin sudah tidak menjadi pelajaran baku di tingkat taman kanak-kanak (TK), karena semuanya tergantikan oleh papan kata (keyboard), anak-anak kesekolah sudah tidak membutuhkan buku-buku lagi, karena semuanya ada dalam keping data yang di unduh dari dunia maya, semuanya serba praktis dan tidak memerlukan ruang yang besar(seperti tas sekolah). anak-anak dalam generasi ini akan merasa kikuk untuk bersosialisasi secara langsung, bahkan mereka lebih terbiasa berkomunikasi lewat pesan pendek, secara nyata mereka akan terbiasa dengan budaya bertemu di dunia maya lewat streaming audio dan visual, apakah ini revolusi kebudayaan?? atau inikah dunia yang selama ini didambakan oleh umat manusia yang semakin terkurung dalam kebebasannya?? Bahasa yang dipergunakannya pun tentu tidak akan sama dengan bahasa ibunya, semua tertata dalam struktur bahasa mesin yang menjadi pilar utama komunikasi era digital!!

TINJAUAN TERHADAP RUANG – RUANG DALAM PAROLE MUSIKALISASI PUISI! (SEBUAH PEMIKIRAN)

TINJAUAN TERHADAP RUANG – RUANG DALAM PAROLE MUSIKALISASI PUISI! (SEBUAH PEMIKIRAN)

EKA P KUSUMAH.

’Seni dapat mengungkapkan hal-hal yang tidak dapat diungkapkan secara lain, seni memberikan penglihatan kepada pemikiran spekulatif, sehingga yang ”buta” dapat ”melihat” transedensi, antara keabadian dan waktu. Seni merupakan suatu dunia antara mistik dan eksistensi,…………………….. seni merupakan puncak kesadaran. Dalam seni kesadaran membebaskan diri dari kemelaratan hidup. Tetapi karena seni tidak mengenal keterlibatan dan tidak menerima ikatan, maka dalam seni hanya diciptakan ruang, dan hanya diberikan mekungkinan-kemungkinan. (Karl Jaspers).

Berbicara mengenai musikalisasi puisi sebagai medium seni, lantas menyadarkan kita tentang pemahaman kesadaran akan ”ruang-ruang seni yang otonom”, yang terkandung didalamnya yaitu ruang ’musik’ dan ruang ’puisi’ yang bersatu didalam interaksi ”kerangka situasi” sebuah pementasan (pertunjukan).

Dua entitas seni tersebut menjadi medium pokok interpretasi didalam penggarapan karya musikalisasi puisi, tentu didalam proses kreatifnya akan memiliki perbedaan-perbedaan karakteristik yang berorientasi kedalam konsep pementasan. Perbedaan tafsiran (multi tafsir) sangat umum didalam penggarapan sebuah konsep pementasan dan bukanlah hal yang tabu.

Sebagai contoh, jika seniman musik yang menafsirkan sebuah karya sastra dalam hal ini teks puisi tentu akan mengadirkan interpretasi yang berbeda didalam konsep pementasannya secara menyeluruh, bisa saja musik menjadi ruang yang ”kuat” didalam garapannya bahkan mungkin hanya sedikit bahasa puisi yang terungkap secara lisan yang karena kesemuanya hampir ’terwakilkan’ oleh bahasa musik yang memainkan simbol-simbol didalam komponen musik (warna bunyi, intensitas bunyi, aksentuasi, harmoni, contrapung, lick, dll) sebagai penafsiran atas teks puisi, tentunya ini sah-sah saja.

Juga jika orientasi dilakukan oleh seniman puisi, tentu ’form’ dasar didalam penggarapan MP menjadi lain pula dalam hasil akhirnya. Puisi secara tekstual (main idea) yang di ’gabungkan’ dengan elemen musik dalam konteks MP tentu akan menghasilkan sebuah konsep pertunjukan yang ’berbeda’ pula, elemen musik sebagai ’ruang’ tentu akan lebih difungsikan hanya sebagai medium ’pelengkap’ saja didalam penggarapannya, mungkin hanya dijadikan backsound untuk lebih menghidupkan/ membangun atmosfir sesuai dengan interpretasi dari seniman puisi yang bersangkutan, atau mungkin pula akan menghasilkan bentuk-bentuk pementasan yang lain (tidak baku) bukan hanya sekedar pembacaan puisi yang diiringi musik an sich.

Komposisi musik vokal yang juga sering dijadikan ”altar” penguat atas interptretasi sebuah teks puisi (yang sering bernuansa kelam, biru dan romantis) dalam bentuk koor, gospel dan canon yang dijadikan bahan untuk membangun interpretasi (pemaknaan secara musikal).

Bahkan sering pula teks puisi di ”insert” kedalam sebuah komposisi musik berbentuk lagu dengan penyesuaian-penyesuaian teks atas nada atau sebaliknya untuk mendapatkan atmosphir yang dikehendaki secara subjektif. Dan tentunya ini sah juga, tidak ada yang salah!.

REKONSTRUKSI TERHADAP RUANG ”PUISI”

Puisi sebagai medium seni sastra memiliki kompleksitas tersendiri didalam sosoknya yang intristik, pemahaman mendalam mengenai struktur bangunan tekstual puisi berdasarkan kepada kode-kode yang membangun dasar makna atas teks yaitu ; kode bahasa, kode budaya dan kode sastra. Ketiga kode ini secara krusial menjadi komponen penting didalam menggali pemaknaan atas puisi.

Dalam wujudnya yang kompleks tersebut, puisi memiliki elemen-elemen penting yang menjadi jalinan utama (main frame) didalam keutuhan  menyeluruh sebagai sebuah karya sastra. Elemen-elemen tersebut diantaranya ;   rima dan ragam bunyi, komposisi kata-kata, enjambemen dan lain sebagainya. Sedangkan didalam proses pembacaan teks puisi juga dikenal dengan adanya tempo dan irama ( rima akhir, rima awal, asonansi, aliterasi, onomatopi, cachopony, euphony, negasi dll).

Dari komponen-komponen dasar yang dimiliki ruang puisi, tentunya kematangan puisi sebagai sebuah karya seni jelaslah tampak dari nilai estetikanya yang holistik membangun ruang ekspresi dan pemaknaan atas kata dan intensitas bunyi dari kata yang dirangkai sehingga menghasilkan struktur bunyi musikal yang identik dengan pencapaian atmosphir yang di bangun oleh komposisi kata, tempo dan gaya pembacaan dari penyairnya!.  Apabila kita menganggap bahwa puisi butuh media musikal dari luar dirinya, maka pada dasarnya puisipun memiliki makna ’musikal’ internalnya sendiri. Bahkan ada pernyataan ekstrim ”kenikmatan membaca puisi, yaitu ketika membacanya tanpa musik, karena sejatinya alam disekitarnya adalah irama musik bagi puisinya”.

REKONSTRUKSI TERHADAP RUANG ”MUSIK-ALISASI”

Definisi dari musik adalah ” ilmu pengetahuan dan seni tentang kombinasi ritmik dari nada-nada, baik vokal maupun instrumental, yang meliputi melodi dan harmoni sebagai ekspresi dari segala sesuatu yang ingin diungkapkan terutama aspek emosional” (david Ewen, the home of musical knowledge, 1965.)

Sama seperti puisi yang juga memiliki konsep membangun pemaknaan emosional dalam karyanya, maka puisi dan musik memiliki prinsip dasar yang identik diantara keduanya. Bentuk musik terbentang dalam ruang yang sifatnya spesial, maka musik dapat disejajarkan dengan bentuk-bentuk dalam karya seni sastra. Jika bentuk-bentuk sastra ditulis dari kiri ke kanan (kecuali dalam bahasa tertentu misalnya; bahasa Simetik dan bahasa-bahsa oriental), bentuk-bentuk musik juga ditulis dari kiri ke kanan dan dari bawah ke atas, sehingga arah dari kiri ke kanan menunjukan ruang dimensi waktu, sedangkan dari bawah ke atas menunjukan ruang dimensi yang sifatnya akustik musikal. Kesejajaran dalam kalimat musik, seperti halnya dalam kalimat bahasa, terjadi antara frase anteseden dan frase konsekuen. Ini dapat dilihat dari tulisan musik secara horisontal dari kiri ke kanan. Sedangkan kesejajaran vertikal diantara dua garis melodi atau lebih yang berbunyi bersamaan, dapat dilihat dari tulisan musik secara horisontal sekaligus vertikal, dan pengamatan secara vertikal khusus bagi keselarasan bunyi (harmoni).Suhatjarja.

DEFINISI YANG TAK TERDEFINISIKAN!

Dalam perkembangannya, musikalisasi puisi (MP) banyak mendapat respon dari medium-medium seni yang lain seperti teater dan tari yang juga mulai banyak mengadaptasi puisi sebagai konsep dasar dalam karya pementasannya. Dan ini tentu akan memberikan khasanah baru yang akan memperkaya bentuk-bentuk pertunjukan MP.

Musikalisasi Puisi (MP) sebagai media ekspresi tentu memiliki nilai-nilai estetis yang tidak terbatas (terbuka) terhadap pengembangan didalam pencarian ”bentuk” nya yang kaya akan keberagaman tafsir dan akan menghadirkan sebuah bentuk pertunjukan seni yang mampu mengakomodir berbagai entitas seni (bersinergi), aspiratif dan nilai makna dalam entitas puisi dapat ’tertangkap’ oleh apresiasi penonton (pendukungnya).

Banyak ulasan-ulasan tentang pemaknaan kata dari bentuk musikalisasi puisi, mulai dari penafsiran musik yang mengiringi puisi, puisi yang di musikalisasi, musik berpuisi, gerak teatetrikal puisi (puisi teatrikal), dramatisasi puisi dan lain sebagainya, tentu ini akan memperkaya MP sebagai entitas karya seni yang mendapat tempat dan respon positif dari medium seni lainnya. Tapi ada juga yang masih terjebak didalam ’kedangkalan’ tafsir terhadap MP, seolah-olah MP adalah sebuah karya yang ”mutlak” dengan bentuknya yang ada, seolah-olah dibuat baku sehingga tidak boleh di rubah-rubah (tanpa aturan yang jelas dan mendasar), sehingga MP menjadi kaku dan miskin akan eksplorasi, aspirasi, interpretasi dan pemaknaan ekspresi. Ini tidak sejalan dengan wujud dari sebuah bentuk kesenian yang membutuhkan proses kreatif dan penggalian ide-ide original (avant garde) yang terus ber-evolusi bahkan berevolusi seiring dengan perkembangan diskursus seni yang kontemporer!.

’dengan menggambarkan tiga contoh, masing-masing dari gaya pribadi,gaya nasional dan gaya periode, telah dijelaskan mengenai tujuan sejarah kesenian yang menganggap gaya terutama sebagai ekspresi, yaitu ekspresi dari jiwa suatu bangsa sebagai ekspresi dari tempramen pribadi.

…deskripsi mengenai perbedaan antara raphael dan rembrandt adalah semata-mata penghindaran dari masalah utama sebab yang penting bukanlah untuk menunjukan perbedaan keduanya, melainkan bagaimana keduanya dengan cara yang berbeda telah mengasilkan yang sama, yaitu seni yang agung’.Heinrich Wolfflin, 1929, h 10.

MUSIKALISASI PUISI KARYA SENI MUTLAK, ATAU MEDIUM KREATIVITAS?

Ada beberapa pertanyaan mendasar ketika medium puisi yang terus berkembang seiring semangat kemajuan dunia seni kontemporer (post modernisme), pertanyaannya adalah :  Apakah Musikalisasi Puisi merupakan langkah etis dalam estetika puisi ?, Apakah hanya entitas musik saja yang ’mampu’ menghidupkan realitas pementasan sebuah karya puisi?, Apakah hanya musik dan puisi dua entitas yang koheren sebagai komponen dasar dalam MP?, Lalu bagaimana dengan teks puisi yang digubah kedalam ”lagu” dengan gaya tertentu juga tidak akan merubah makna intristik dari puisi tersebut? Bagaimana pemaknaan ekspresi antara puisi yang dibacakan tanpa musik dengan puisi yang dimusikalisasi? Bentuk musikalisasi seperti apa yang menjadi idiom baku dalam MP?, Apa batasan-batasan konkret untuk sebuah wujud real dari karya Musikalisasi Puisi? Dari pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin akan mendapat jawaban yang beragam dan kompleks, bahkan akan terbuka peluang lahirnya interpretasi baru terhadap wacana musikalisasi puisi!.

Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan diatas menjadi narasi besar didalam proses pencarian bentuk dan penafsiran atas pemaknaan tekstual dalam konteks ruang-ruang otonom Musikalisasi Puisi. Entah mau di bentuk seperti apa musikalisasi puisi oleh setiap seniman yang menggarapnya, kebebasan ada ditangan kreatornya, tanpa batasan nilai baku yang dikodifikasi dan tentunya output yang dihasilkan akan memberikan gaung segar atas originalitas karya dan etetika yang tidak dipaksakan.Toh didalam kenyataan bahwa sebuah karya seni yang otonom akan menjadi karya yang apresiatif ketika mendapat respon dari penonton (pendukungnya) sehingga komunikasi yang kondusif sejatinya terjadi diatas pentas.

Kita tak berharap terus berenang dalam samudera abstraksi yang tanpa batas dan akhir, setidaknya kita coba menggapai tepian pemikiran yang konkret dan membumi atas dasar fitrahnya sebuah karya seni yang menjadi milik bersama!.

Penulis adalah pencinta seni karawangPendiri teater 567 karawang , STK (Study Teater Karawang), Forum Apresiasi dan Kajian Seni Karawang

Email : eka_priadikusumah@yahoo.com

MUSIK TEORI SEBUAH PENGANTAR

Teori musik

EKA P KUSUMAH.

  1. Musik dalam keseharian kita menjadi sebuah peristiwa seni yang ”lumrah”, akan tetapi ketika kita membicarakan musik sebagai medium seni (dalam telaah seni) menjadi sesuatu yang tidak ”lumrah” lagi. Banyak pertanyaan seputar musik yang tidak mudah untuk didefenisikan, dalam hal ini penulis mencoba menelaah musik dari sudut pandang teori musik. Ini sangat penting untuk dipahami! Sebab tanpa pengetahuan dasar musik yang komprehensif tentu siapapun menjadi sukar untuk memahami fenomena musik secara teoritis!. Sumber-sumber didapat dari berbagai buku dan seminar musik baik tingkat nasional maupun internasional, semoga bemanfaat!.

Teori musik merupakan cabang ilmu yang menjelaskan unsur-unsur dalam musik. Cabang ilmu ini mencakup pengembangan dan penerapan metode untuk menganalisis maupun menggubah musik, dan keterkaitan antara notasi musik dan pembawaan musik.

Hal-hal yang dipelajari dalam teori musik mencakup aspek-asek penting dalam musik misalnya suara, nada, notasi, ritme, melodi, Kontrapung Musik, harmoni, Bentuk Musik, Teori Mencipta Lagu, komposisi musik dll.

Juga musik dipelajari dari telaah dibalik musik tersebut (telaah antropolgi, psikologi, sosial, budaya dll) cabang ilmu ini dinamakan ”Ethnomusicologi”. Ethnomusicologi juga menelaah aspek musik dari sudut pandang teori barat dan budaya lokal yang melahirkan konsep musik dalam suatu komunitas budaya. Baik secara analisis kegunaan dan fungsi dari musik tersebut!.

Komposisi musik

dapat digunakan dalam 2 pengertian:

Pertama komposisi adalah potongan musik (komposisi berarti “menaruh bersama”, sehingga komposisi ialah sesuatu di mana catatan musik ditaruh bersama). Ketika menulis potongan musik, berarti seorang komponis sedang membuat komposisi musik.

Kedua kata komposisi dapat pula berarti mempelajari kecakapan bagaimana menyusun musik. Calon pemusik dapat menempuh pendidikan di sekolah musik untuk belajar komposisi. Mereka akan melakukannya dengan memandang pada potongan musik terkenal untuk melihat bagaimana seorang komponis dahulu menulis musik. Mereka akan belajar bentuk musik, harmoni, orkestrasi, nada pengiring, dan segala hal tentang alat musik dan bagaimana menulisnya dengan baik agar menghasilkan suara merdu.

Lagu

Lagu merupakan gubahan seni nada atau suara dalam urutan, kombinasi, dan hubungan temporal (biasanya diiringi dengan alat musik) untuk menghasilkan gubahan musik yang mempunyai kesatuan dan kesinambungan (mengandung irama). Dan ragam nada atau suara yang berirama disebut juga dengan lagu.

Lagu dapat dinyanyikan secara solo, berdua (duet), bertiga (trio) atau dalam beramai-ramai (choir). Perkataan dalam lagu biasanya berbentuk puisi berirama, namun ada juga yang bersifat keagamaan ataupun prosa bebas. Lagu dapat dikategorikan pada banyak jenis, bergantung kepada ukuran yang digunakan.

Suara

Teori musik menjelaskan bagaimana suara dinotasikan atau dituliskan dan bagaimana suara tersebut ditangkap dalam benak pendengarnya. Dalam musik, gelombang suara biasanya dibahas tidak dalam panjang gelombangnya maupun periodenya, melainkan dalam frekuensinya. Aspek-aspek dasar suara dalam musik biasanya dijelaskan dalam tala (Inggris: pitch, yaitu tinggi nada), durasi (berapa lama suara ada), intensitas, dan timbre (warna bunyi).

Nada

Suara dapat dibagi-bagi ke dalam nada yang memiliki tinggi nada atau tala tertentu menurut frekuensinya ataupun menurut jarak relatif tinggi nada tersebut terhadap tinggi nada patokan. Perbedaan tala antara dua nada disebut sebagai interval. Nada dapat diatur dalam tangga nada yang berbeda-beda. Tangga nada yang paling lazim adalah tangga nada mayor, tangga nada minor, dan tangga nada pentatonik. Nada dasar suatu karya musik menentukan frekuensi tiap nada dalam karya tersebut.

Ritme

Ritme adalah pengaturan bunyi dalam waktu. Birama merupakan pembagian kelompok ketukan dalam waktu. Tanda birama menunjukkan jumlah ketukan dalam birama dan not mana yang dihitung dan dianggap sebagai satu ketukan. Nada-nada tertentu dapat diaksentuasi dengan pemberian tekanan (dan pembedaan durasi).

Notasi

Notasi musik merupakan penggambaran tertulis atas musik. Notasi musik yang kita kenal ada dua jenis yaitu notasi angka (solmisasi) dan notasi balok. Dalam notasi balok, tinggi nada digambarkan secara vertikal sedangkan waktu (ritme) digambarkan secara horisontal. Kedua unsur tersebut membentuk paranada, di samping petunjuk-petunjuk nada dasar (key signature), tempo, dinamika, dan sebagainya.

Melodi

Melodi adalah serangkaian nada dalam waktu. Rangkaian tersebut dapat dibunyikan sendirian, yaitu tanpa iringan, atau dapat merupakan bagian dari rangkaian akord dalam waktu (biasanya merupakan rangkaian nada tertinggi dalam akord-akord tersebut).

Harmoni

Harmoni secara umum dapat dikatakan sebagai kejadian dua atau lebih nada dengan tinggi berbeda dibunyikan bersamaan, walaupun harmoni juga dapat terjadi bila nada-nada tersebut dibunyikan berurutan (seperti dalam arpeggio). Harmoni yang terdiri dari tiga atau lebih nada yang dibunyikan bersamaan biasanya disebut akord.