Posts from the ‘1’ Category

MENGUAK SEJARAH LAHIRNYA JAIPONG

karawang jawa baratProlog
Dari judul diatas penulis merasa tertarik untuk mengungkap sisi sejarah dari lahirnya seni pertunjukan jaipongan yang tumbuh dan berkembang di kota Bandung Jawa Barat, dan selanjutnya berkembang luas ke berbagai wilayah budaya di jawa barat dan bahkan ke wilayah pelosok nusantara melalui media televisi (TVRI), dan sempat pula jaipongan melalang buana ke manca negara melalui pertukaran budaya (eksebisi/lawatan budaya ke eropa). Jaipongan merupakan bentuk seni pertunjukan masyarakat tatar sunda dan yang bukan berakar dari seni adiluhung (keraton) sehingga proses penyajiannya boleh dikatakan sangat sederhana dan lebih cenderung sebagai media hiburan semata.
Bentuk seni pertunjukan jaipongan di bangun oleh dua komponen penting yaitu music dan tari yang keduanya melebur dalam kemasan pertunjukan yang saling mengisi dan terkait satu sama lainnya, ungkapan ekspresi tepak gendang jaipong selaras dengan gerak tari yang terkesan gembira dan masuk kedalam genre tari pergaulan. Dalam komposisi tembang atau lagu dalam music jaipongan mengangkat tema-tema keseharian dalam ruang budaya masyarakat sunda seperti tema percintaan, pemujaan terhadap leluhur dan tema social lainnya, seperti tertuang dalam beberapa tembang seperti talak tilu, gaplek dll.
Dalam komposisi gerak tari jaipongan tradisional banyak mengadopsi gerak-gerak dari elemen seni pertunjukan yang lain diantaranya dari pencak, topeng banjet dan lain sebagainya, yang merupakan simbolisasi dari karakteristik masyarakat pantura Karawang yang cenderung terbuka dan menerima (Ekstropert).
Dimanakah seni pertunjukan Jaipongan terlahir?
Siapa yang tidak kenal dengan kata “Jaipongan”,hampir semua masyarakat sunda di Jawa Barat pasti mengenal bentuk kesenian ini!. Jaipong merupakan sebuah genre seni pertunjukan rakyat yang terdiri dari medium musik dan tari. Seni pertunjukan jaipongan kini sudah menjadi milik bersama (common heritage) masyarakat jawa barat (sunda), proses pengayaan (creative) dalam seni pertunjukan jaipongan berbaur dalam kompleksitas keseharian masyarakat sunda dan periode pesatnya proses perkembangan seni pertunjukan jaipong di mulai di era tahun 80 an.
sangat sedikit sekali artikel atau tulisan yang mengungkap sejarah tempat kelahirannya. Lebih banyak mengungkap perihal proses creative nya saja.
Dalam berbagai tulisan dan artikel banyak di ulas bahwa tempat kelahiran jaipongan adalah kota Bandung, dan ini menjadi sebuah realitas informasi yang berkembang di kalangan masyarakat seni. Seperti beberapa kutipan dari artikel yang membahas jaipongan:
“Jaipongan adalah sebuah genre kesenian yang lahir dari kreativitas seorang seniman Bandung, yakni Gugum Gumbira. Perhatiannya pada kesenian rakyat yang salah satunya adalah Ketuk Tilu membuat seorang Gugum Gumbira mengetahui dan mengenal betul perbendaharaan pola-pola gerak tari tradisi yang ada pada Kiliningan/Bajidoran atau Ketuk Tilu. Gerak-gerak bukaan, Pencugan, nibakeun dan beberapa ragam gerak minced dari beberapa kesenian di atas cukup memiliki inspirasi untuk mengembangkan tari atau kesenian yang kini dikenal dengan nama Jaipongan”(sumber: website Disbudpar Jabar)
“Kemunculan tari jaipongan 1980 an yang lahir dari kekreatifitasan para seniman Bandung yang dikenal dengan Gugum Gumbira , pada awalnya tarian tersebut pengembangan dari ketuk tilu apabila dilihat dari perkembangannya dan dasar koreografernya. Kata jaipong bersal dari masyarakat Karawang yang bersal dari bunyi kendang sebagai iringan tari rakyat yang menurut mereka berbunyi jaipong yang secara onomotofe . tepak kendang tersebut sebagai iringan tari pergaulan dalam kesenian banjidoran yang berasal dari Subang dan Karawang yang akhirnya menjadi populer dengan istilah jaipongan.”
(sumber : http://bandung.blogspot.com/2011/06/kesenian-tari-jaipongan.html#ixzz1qCVDk3i9)

Dalam kutipan artikel di atas tidak diragukan lagi bahwa seniman bandung Gugum Gumbira adalah yang melahirkan seni jaipongan!.
Karawang tempat lahirnya Jaipongan!
Ada hal lain yang sangat menarik untuk di telaah dari sisi sejarah kelahirannya seni jaipongan, dan ini bisa dijadikan referensi baru sebagai penyeimbang dari artikel-artikel diatas, dalam hal ini penulis hanya bermaksud untuk menguak kebenaran sejarah dari lahirnya jaipongan di dalam ruang seni sunda Jawa Barat dan tiada pretensi yang lain.
Dalam tulisan singkat ini penulis menghadirkan resume hasil wawancara/interview seputar sejarah lahirnya seni pertunjukan jaipongan secara kualitatif dengan nara sumber H Suanda di Karawang, dalam study perbandingan sejarah seni pertunjukan jaipongan ini banyak ditemukan beberapa bukti baru dari hasil wawancara tersebut, dan ini belum sempat di confrontier dengan nara sumber lain atau nara sumber pembanding lainnya. Ini merupakan hasil awal yang tentunya masih bisa di perdebatkan lebih dalam lagi.
Jaipongan terlahir melalui proses kreatif dari tangan dingin H Suanda sekitar tahun 1976 di Karawang, jaipongan merupakan garapan yang menggabungkan beberapa elemen seni tradisi karawang seperti pencak silat, wayang golek, topeng banjet, ketuk tilu dan lain-lain .
Jaipongan di karawang pesat pertumbuhannya di mulai tahun 1976 , di tandai dengan munculnya rekaman jaipongan SUANDA GROUP dengan instrument sederhana yang terdiri dari gendang, ketuk, kecrek, goong, rebab dan sinden atau juru kawih. Dengan media kaset rekaman tanpa label tersebut (indie label) jaipongan mulai didistribusikan secara swadaya oleh H Suanda di wilayah karawang dan sekitarnya. Tak disangka Jaipongan mendapat sambutan hangat, selanjutnya jaipongan menjadi sarana hiburan masyarakat karawang dan mendapatkan apresiasi yang cukup besar dari segenap masyarakat karawang dan menjadi fenomena baru dalam ruang seni budaya karawang, khususnya seni pertunjukan hiburan rakyat.
Posisi Jaipongan pada saat itu menjadi seni pertunjukan hiburan alternative dari seni tradisi yang sudah tumbuh dan berkembang lebih dulu di karawang seperti penca silat, topeng banjet, ketuk tilu, tarling dan wayang golek. Keberadaan jaipong memberikan warna dan corak yang baru dan berbeda dalam bentuk pengkemasannya, mulai dari penataan pada komposisi musikalnya hingga dalam bentuk komposisi tariannya.
Didalam perjalanannya melahirkan seni jaipongan H Suanda banyak mendapat kecaman dan hujatan dari seniman sepuh yang sudah terlebih dahulu eksis, mereka menganggap H Suanda telah “menabrak” pakem dengan tepak gendangnya yang tersaji dalam komposisi tepak gendang jaipong namun beliau tetep jalan dengan keyakinannya, dan akhirnya berbuah manis
Jaipongan Era Modern
Pada tahun 1979 jaipongan mengalami proses transformasi dan penataan (stilisasi) baik dalam pola tepak gendang maupun dalam ibing (tarian) juga dalam penciptaan komposisi tembang (lagu), melalui tangan dingin seorang seniman asal bandung yaitu Gugum Gumbira. Maka mulai saat itu jaipongan yang terlahir di karawang dibesarkan dalam khasanah kemasan seni yang mutakhir dan lebih modern.
Semua bentuk dan model tepak gendang di susun dan di berikan pola yang lebih terstruktur dalam bentuk notasi, yang kemudian di urai dan di tuangkan kedalam beberapa komposisi lagu yang sesuai dengan tuntutan pasar (commercial). Maka pada saat itu di bandung muncul grup kesenian jaipong yang melegenda seperti JUGALA (Juara dalam gaya dan Lagu) dengan tembang hitsnya seperti Daun pulus Keser Bojong, Randa Ngora dan banyak lagi.
Sudah tentu komposisi yang di bawakan oleh Jugala berbeda dengan komposisi awal yang dimainkan oleh Suanda grup selaku pelopor dari lahirnya musik jaipong di karawang, meskipun Suanda terlibat didalamnya sebagai penabuh gendang. Ini di sebabkan Suanda memainkan gendang berdasarkan pada pola yang sudah disusun secara cermat oleh komposernya yaitu Gugum Gumbira.
Gaya dari bentuk elemen jaipongan serta kualitas dan ekspresinya di kemas dalam pola-pola yang terbarukan sehingga sosok jaipongan seolah terlahir kembali dengan balutan gaya modern. Keterlibatan sarjana-sarjana seni dalam upaya untuk mengembangkan dan mencari bentuk-bentuk seni pertunjukan tradisional di jawa barat juga menjadi penyebab utama menggeliatnya seni pertunjukan jaipongan dan menjadi besar seperti sekarang ini.
Karawang sebagai tempat kelahirannya seni pertunjukan jaipongan seharusnya lebih menggarap dan mengembangkan potensinya, tentunya dengan mengutamakan kearifan local sehingga jatidiri dan karakteristik karawang sebagai kota seni dan budaya jawa barat dapat lebih eksis dan mampu berbicara dalam khasanah ruang seni budaya global!.

Karawang April 2012
Eka Priadi Kusumah

Iklan

REVITALISASI SENI BUDAYA STRATEGI JITU MENANGKIS SERANGAN GLOBALISASI

REVITALISASI SENI BUDAYA STRATEGI JITU MENANGKIS SERANGAN GLOBALISASI
(Sumbangan Pemikiran)
Oleh: Eka Priadi Kusumah
Prolog
Kata “Revitalisasi” menjadi issue central dalam upaya menumbuh kembangkan seni dan budaya lokal Karawang, Kata revitalisasi di maknai sebagai upaya untuk memvitalkan kembali dengan cara menghidupkan dan memperkenalkan kembali entitas seni tradisi yang telah lama menghilang dari khasanah seni budaya lokal karawang.
Sadar akan kondisi “mati suri”nya seni tradisi karawang, kebutuhan akan Revitaslisasi seni dan budaya menjadi sesuatu yang urgent sifatnya. Terlebih pada saat ini karawang telah mejelma menjadi kota urban baru yang akan membenamkan seni tradisi ke ujung penghabisan. Fenomena seni dan budaya barat sudah menjadi konsumsi publik dalam kesehariannya. Yang secara massive di propagandakan dalam bentuk-bentuk komunikasi yang menggurita dalam ruang publik sehingga menutup kesempatan seni dan budaya lokal untuk tampil ke permukaan.
Tentunya sedikit pemikiran yang tertuang dalam tulisan yang singkat ini membahas issue revitalisasi seni dalam diskursus seni budaya lokal.
Dalam mewujudkan hal ini sejatinya di butuhkan langkah-langkah konkret dan terencana dalam menjalankan strategi me-revitalisasi seni dan budaya Karawang karena revitalisasi merupakan kegiatan yang sangat kompleks dan melalui beberapa hal sebagai berikut :
Study dan riset,
Mengawali kegiatan Revitalisasi seni dan budaya tentunya di butuhkan upaya riset dan study yang komprehensif baik wujud artifak maupun wujud seni itu sendiri dan pelaku seni yang masih ada yang terkait langsung dengan objek seni yang akan di revitalisasi.
Ini dalam rangka telaah fenomenologi, menginventarisir dan melakukan pemetaan baik secara etika, sosiologi, psikologi budaya, antropologi (tari, teater,ethnomusicology,musicology), arkeologi, estetika, dan disiplin ilmu yang berhubungan dengan seni budaya secara holistik.

Revitalisasi fisik,
Dilakukan secara bertahap, meliputi perbaikan dan peningkatan kualitas Seni (karya seni), penyediaan ruang ekspresi pertunjukan (gedung kesenian, panggung dll) penataan dan penyediaan infrastruktur berkesenian (instrument, gamelan, pelatihan nayaga/player) sistem penghubung/komunikasi, tanda dan ruang (kostum,aksesoris). Mengingat citraan visual sangat erat kaitannya dengan konsep pertunnukan karya seni, khususnya dalam interaksi antara karya seni dengan penonton, intervensi fisik ini perlu dilakukan.
Isu menumbuh kembangkan seni dan budaya tradisi (art and culture sustainability) pun menjadi penting, sehingga intervensi fisik sudah semestinya memperhatikan konteks ramah seni dan budaya seperti pakem dan sejarah yang melatar belakangi munculnya seni dan budaya. Perencanaan fisik pada karya seni tetap harus dilandasi pemikiran jangka panjang.
Sosialisasi
Menumbuh kembangkan seni dan budaya yang menjadi milik bersama (common haretage) tentunya juga harus di tujang oleh promosi yang gencar melalui saluran informasi yang tepat dan berkesinambungan, bisa melalui jalur formal maupun nonformal.
Rehabilitasi ekonomi

Revitalisasi yang diawali dengan proses peremajaan artefak harus mendukung proses rehabilitasi kegiatan ekonomi. Perbaikan dan pembangunan fisik pada ruang ekspresi yang bersifat jangka pendek, diharapkan bisa mengakomodasi kegiatan berkesenian informal dan formal, sehingga mampu memberikan nilai tambah bagi sentra seni dan budaya.
Dalam konteks revitalisasi perlu dikembangkan fungsi campuran yang bisa mendorong terjadinya aktivitas seni dan budaya, ekonomi dan social dan menjadi “vitalitas baru”.

Revitalisasi organisasi/institusional

Keberhasilan revitalisasi seni dan budaya akan terukur bila mampu menciptakan lingkungan yang kondusif untuk berkarya dan berekspresi serta mampu memberikan daya tarik (interesting), jadi bukan sekedar menggali dan memperkenalkan kemudian menghidupkan kembali seni budaya yang sudah “mati” (re-born).
Maksudnya, kegiatan tersebut harus berdampak positif serta dapat meningkatkan dinamika dan kehidupan sosial masyarakat/warga (public realms). Sudah menjadi sebuah tuntutan yang logis, bahwa kegiatan perancangan dan pembangunan karakter seni dan budaya untuk menciptakan lingkungan sosial yang berjati diri (character building) dan hal ini pun selanjutnya perlu didukung oleh suatu pengembangan institusi yang baik terutama stake holder yang terkait langsung dengan khasanah seni dan budaya.
Proses seleksi (kurasi) terhadap bentuk karya seni penting untuk di lakukan, dimana karya seni mendapat tempat dan posisi dalam kelayakan dan kepatutan yang bisa dipertanggungjawabkan baik dalam estetika maupun etika, sehingga dapat merangsang proses kreatifitas dan menumbuhkan apresiasi yang kondusif bagi perkembangan seni dan budaya.
Karawang Mei 2011

Pemanfaatan teknologi dalam Pengembangan Wisata, Seni Dan Budaya Karawang

“Teknologi Multimedia Medium Ideal bagi Transformasi Wisata Seni dan Budaya”
Oleh : Eka Priadi Kusumah

Prolog
Tidak dapat dipungkiri pesatnya perkembangan teknologi dalam berbagai bidang telah mengubah cara pandang serta cara kerja dalam khasanah kebudayaan. Teknologi merupakan salah satu komponen kebudayaan yang terus bergerak seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dalam rangka meningkatkan taraf hidup manusia dalam berbagai bidang kehidupan.
Teknologi menyangkut cara-cara atau teknik memproduksi, memakai, serta memelihara segala peralatan dan perlengkapan. Teknologi muncul dalam cara-cara manusia mengorganisasikan masyarakat, dalam cara-cara mengekspresikan rasa keindahan, atau dalam memproduksi hasil-hasil kesenian.
Secara etimologis, akar kata teknologi adalah “techne” yang berarti serangkaian prinsip atau metode rasional yang berkaitan dengan pembuatan suatu objek, atau kecakapan tertentu, atau pengetahuan tentang prinsip-prinsip atau metode dan seni. Istilah teknologi sendiri untuk pertama kali dipakai oleh Philips pada tahun 1706 dalam sebuah buku berjudul (Technology: A Description Of The Arts, Especially The Mechanical).
Terbukti secara konkrit teknologi telah menyumbang begitu banyak hal dalam peradaban manusia, berkat teknologi manusia kini mampu menghasilkan cara-cara yang efektif dan efisien didalam menyelesaikan berbagai macam hal dan persoalan dalam rangka mempertahankan kelangsungan hidup umat manusia.
Teknologi Multi Media dan Peranannya
Multimedia banyak diterapkan dan dimanfaatkan dalam berbagai bidang kehidupan seperti dalam system informasi bidang Pemerintahan (e-government), bisnis dan perdagangan (e-commerce) dunia pendidikan (e-learning), multimedia juga digunakan sebagai media iklan, profil perusahaan, profil produk, bahkan sebagai media informasi di garis depan didalam mentransformasikan ide dan gagasan serta tujuan produk.
Dalam bidang seni dan budaya pada jaman dahulu, proses pemanggungan untuk seni pertunjukan masih menggunakan teknologi yang sangat sederhana, misalnya untuk penerangan (lighting) hanya menggunakan obor, atau lampu petromak, tata suara (sound system) seadanya pada umumnya hanya mengandalkan kemampuan olah vocal dari seniman (artist), juga untuk perangkat-perangkat pendukung pertunjukan lainnya seperti promosi dan pengkemasan pertunjukan hanya menggunakan teknologi yang sederhana. Sangat berbeda dengan konsep pertunjukan pada saat ini dimana peralatan dan perlengkapan pemanggungan mulai dari lighting, sound system, promosi dan pengkemasan pemanggungan sudah sangat modern sehingga proses kreatif pada pra dan pasca produksi pertunjukan menjadi lebih bergairah dan kaya akan inovasi.
Dalam beberapa dekade terakhir perkembangan teknologi Multi media memberikan dampak positif bagi perkembangan seni dan budaya, terlebih dalam hal pengkemasan, promosi dan pemasaran objek wisata, seni dan budaya.
Pemanfaatan teknologi multi media dalam pengembangan wisata, seni dan budaya
Pengembangan objek wisata, seni dan budaya menjadi hal penting untuk di lakukan, karena akan mendatangkan banyak manfaat jika objek wisata, seni dan budaya memiliki daya tarik serta keistimewaan. Tentunya ini akan mendatangkan keuntungan baik dalam hal ekonomi, sosial maupun bagi seni dan budaya itu sendiri. Dengan datangnya wisatawan karena terpikat oleh daya tarik dan pesona wisata, seni dan budaya tentunya juga akan meningkatkan devisa bagi perekonomian wilayah setempat.
Banyak saluran teknologi yang bisa dimanfaatkan untuk mengembangkan potensi wisata, seni dan budaya, yang tentunya dapat menunjang proses pengkemasan secara eksklusif hingga menarik perhatian wisatawan. Kondisi kemajuan teknologi sangat pesat baik dalam infrastruktur maupun supra struktur teknologi. Kejelian didalam memilih media teknologi menjadi kunci sukses keberhasilan dalam mempromosikan serta mengembangkan pesona wisata, seni dan budaya.
Pada dasarnya penerapan teknologi didalam proses pengembangan objek wisata, seni dan budaya memiliki dua arah pengembangan yaitu arah kedalam (inetrnal) dan arah keluar (eksternal).
Pengembangan kedalam (internal)
Dalam proses ini pengembangan potensi yang dimiliki oleh objek wisata, seni dan budaya dikemas dan di kembangkan dengan memanfaatkan media teknologi sehingga wujud serta kualitas objek menjadi lebih kompetitif tetapi tidak mengurangi nilai nilai dasar yang terkandung didalam setiap objek yang di kembangkan.
Selanjutnya objek wisata, seni dan budaya di kemas sedemikian rupa sehingga wujud , bentuk serta kualitasnya berkorelasi dengan lingkungan budaya yang melingkupinya sehingga tercipta iklim dan kondisi yang ”ramah budaya”.
Proses pengembangan terhadap objek wisata, seni dan budaya yang berkesinambungan dan terencana tentunya akan menciptakan suasana yang kondusif dalam ruang wisata, seni dan budaya karawang.
Pengembangan keluar (eksternal)
Pada tahap ini objek wisata, seni dan budaya yang telah di kemas sesuai kebutuhan dalam rangka pengembangan potensinya di transformasikan kedalam bentuk-bentuk dan nlai-nilai yang siap untuk di “konsumsi” oleh publik. kemasanya telah dipoles dengan sentuhan etika dan estetika yang mencerminkan karakter dan jati diri dari kebudayaan karawang. Sehingga citra dari karakteristik serta corak budaya karawang dapat tergambar secara symbolik dalam kemasan objek wisata, seni dan budaya yang hendak di “pasarkan”.
Partisipasi masyarakat (Citizen journalism)
Dalam era dimana media informasi semakin maju, dan kegiatan masyarakat dalam system informasi digital (blog, social networking, dan lain-lain) semakin padu dan menjadi rutinitas dalam aktivitas sehari-hari, maka ini menjadi peluang dan kesempatan untuk melibatkan komponen masyarakat dalam ruang on line untuk turut serta dalam mempromosikan dan mensosialisasikan potensi wisata, seni dan budaya karawang.
Partisipasi dan peran serta masyarakat dalam mengembangkan potensi wisata, seni dan budaya karawang tentunya menjadi hal yang harus terus di gugah dan di galakan dalam rangka menyukseskan dan mentransformasikan hasil pengembangan wisata, seni dan budaya kedalam medium informasi multimedia yang berbasis web.
Pemberdayaan komunitas-komunitas yang tumbuh dan berkembang dalam dunia maya seperti blogger, social network dan lain-lain tentunya akan memberikan kontribusi yang positif dalam rangka mengembangkan potensi wisata, seni dan budaya yang teritegrasi dan bersifat keterlibatan langsung.
Reportoar, artikel-artikel serta hasil penelitian terhadap objek wisata, seni dan budaya menjadi kebutuhan penting didalam menyusun konsep dan strategi untuk mensosialisasikan hasil pengkemasan wisata, seni da budaya. Serta bisa dijadikan bahan referensi bagi komunitas-komunitas yang konsern terhadap isu-isu seputar wisata, seni dan budaya karawang sehingga hasil dari publikasi pada halaman blog ataupun grup di social networking dapat mencerminkan kualitas dan karakteristik yang ideal serta sesuai dengan target yang telah di susun dalam proses pengkemasan dan pengembangan. Informasi dapat berjalan secara interaktif, dan mampu meningkatkan trafik pengunjung serta ketertarikan dari berbagai kalangan dan pihak dari luar kebudayaan karawang.
Merancang symbol-simbol, idiom-idiom seni budaya dan tipografi yang ideal untuk diterapkan dalam konsep desain web yang berhubungan dengan pengembangan wisata, seni dan budaya karawang yang sesuai dengan tradisi budaya karawang. Dengan memperhatikan detail terhadap symbol dan idiom-idiom seni dan budaya lokal yang telah menjadi landasan dasar kebudadayaan karawang. Konsep rancangan tipografi ini harus menjadi landasan dasar didalam mengembangkan dan mencitrakan potensi wisata, seni dan budaya karawang yang utuh dan komprehensif.

seniman tradisi karawang

pertukaran budaya

MENGEMAS POTENSI SENI KARAWANG

MENGEMAS POTENSI SENI KARAWANG
“Potensi Seni Dalam Membangun Karakter Dan Jati Diri”
Oleh : Eka Priadi Kusumah

Prolog
Seni dalam khasanah kebudayaan karawang memiliki motif, ragam, bentuk dan karakter yang mencerminkan adat istiadat serta etos karawang secara simbolik. Dalam keragaman bentuk serta wujudnya, seni yang menjadi milik bersama lahir dan dibesarkan dalam kondisi yang berbeda sesuai dengan jamannya. Bentuk dan keaneka ragaman seni sebagai karya cipta dan kreasi dalam ruang ekspresi menjadi penanda dan ikon masyarakat dalam realitas budaya karawang.
Menyadari entitas seni sebagai medium penting didalam membangun karakter dan jati diri, sudah sepantasnya seni mendapat peran penting didalam proses pembangunan yang seimbang antara pembangunan phisik/materil dan moral yang berkesinambungan sehingga seni berpotensi vital didalam proses pembangunan jati diri atau karakter budaya yang berkepribadian . Sudah menjadi isu global bahwa seni memiliki peran yang sentral didalam membangun watak, karakter dan jati diri sebuah bangsa. Contoh konkret adalah bagaimana Amerika bisa menjadi besar dan terkenal ke seluruh dunia melalui propaganda budaya, medium film di potensikan sebagai alat untuk membentuk opini dan pencitraan amerika sebagai negara “super power”, “polisi dunia”,dan lain sebagainya, pesan tersebut di kemas dalam film yang diproduksi sineas hollywood seperti film Rambo, missing in action dan lain-lain. Dalam film tersebut amerika tercitrakan tidak pernah kalah dan selalu menjadi pihak yang seakan-akan “bersih” dari noda perang di kawasan Vietnam. Amerika dicitrakan menjadi pahlawan kebenaran, mereka bukan penjajah tapi pelopor demokrasi dan seterusnya.
Kesadaran akan potensi seni yang begitu penting bagi pencitraan dan pembangunan karakter serta jati diri, sudah selayaknya potensi seni ini ditumbuh kembangkan sesuai dengan etika dan estetika yang melekat dalam adat istiadat setempat.
Potensi dan tantangan
Apresiasi terhadap seni pada saat ini seakan memudar seiring pesatnya perkembangan teknologi hiburan dalam berbagai medium, produksi seni “kitsch” (murahan) membombardir secara sporadis di ruang publik sehingga publik di paksa masuk kedalam ruang “budaya diam” yang hanya terfokus kepada segmen hiburan belaka, sedangkan di sisi lain aspek apresiasi menjadi tumpul karena nilai estetika dan etika di kaburkan kedalam idiom-idiom yang dangkal akan interpretasi makna terhadap symbol dari seni itu sendiri.
Seni merupakan bentuk aktivitas jiwa yang menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan, sehingga keberadaan seni melekat di berbagai aspek kehidupan. Seni menjadi medium yang mampu memberikan efek tertentu terhadap seniman (creator) dan penikmat (audience) dalam fenomena interaksi yang melahirkan bentuk-bentuk dan idiom-idiom estetik.
Dalam tajuk “Mengemas Potensi Seni Karawang”, jika kita urai pemaknaannya tajuk diatas mengarah kepada penguatan potensi dari seni, tentu bukan hanya potensi yang berorientasi kepada potensi ekonomi semata, seni juga harus mampu “membebaskan” belenggu “kebodohan dan kemiskinan” moral dalam setiap keberadaan kehidupan manusia, seni juga harus memberikan kontribusi positif bagi berbagai aspek kehidupan.
Di dalam proses pengkemasan potensi seni dibutuhkan analisa dan kurasi (seleksi) yang sedemikian rupa (objektif) sehingga hasil dari kemasannya tidak mengurangi kadar dari symbol yang terkandung , fungsi dan kegunaan (uses and functions) serta nilai-nilai estetis dari seni sebagai medium ekspresi dan etika yang menjadi landasan berpikir dan bertindak .
Kita sadar kebudayaan bergerak dinamis, dan pada akhirnya seni pun di tuntut untuk memiliki bentuk yang dinamis, seni harus bergerak seiring zaman dan terus berusaha memberikan pencerahan bagi kehidupan dalam berbagai bentuk dan geraknya dalam ruang yang otonom. Tapi di sisi yang lain Seni tradisi terkadang kurang mampu beradaptasi dengan tuntutan yang terus berubah seiring pola dan gaya hidup masa kini (contemporary), di karenakan ketidak pekaan seniman didalam memahami pergerakan budaya global.
Urban Culture
“para consumer kini mencari sesuatu yang personal, bermain dan menyenangkan pada obyek-obyek yang mereka beli. Akibatnya, obyek harus di muati kualitas ‘sensual’: selain dapat dimengerti, ia juga harus dapat ‘dirasakan’.
(Francois Burkhardt,”design and avant-postmodernism,1988;149).
Dari kutipan diatas, tergambar jelas bahwa kondisi jaman telah menuntut lebih dari sekedar karya seni yang konvensional, dengan kata lain objek seni harus mampu memberikan efek nyata dalam ruang publik yang begitu heterogen dari latar belakang budaya yang berbeda pula (multi culture).
Karawang dalam beberapa dekade telah mengalami migarasi budaya, dari budaya pertanian agraris menjadi budaya industry baru ini fakta dari realitas budaya. Kondisi ini memungkinkan datangnya pendatang dengan latar belakang budaya yang berbeda masuk kedalam khasanah budaya lokal karawang (urban culture). Terjadinya proses persilangan budaya dalam ruang budaya baru karawang tidak bisa dihindari, di tambah dengan masuknya kebudayaan popular dari barat yang menjadikan seni lokal karawang “terkoyak” dalam dinamika perubahan yang tidak seimbang.
Pendekatan secara intrinsik terhadap tekstual seni serta pendekatan ekstrinsik terhadap kontekstual seni merupakan metode yang menyeluruh (holistic) didalam proses pengkemasan potensi seni. Fenomena budaya pop yang menjadi trend di dalam kehidupan budaya masa kini (pop culture) harus mampu dijadikan benchmark atau tolak ukur didalam proses transformasi seni ke dalam ruang publik.
Kitsch
‘seni dizaman kita hiruk pikuk dengan himbauan untuk diam”
(susan sontag, ‘the aesthetic of silence’1988;125)
Kita hidup di era dimana kreatifitas seni di belenggu oleh pemaknaan nilai materil yang menjadi symbol gaya hidup (life style) semuanya serba cepat dan bergerak dalam arus perubahan yang deras mengalir dalam pola pikir konsumerisme yang instan, tidak ada lagi kesempatan untuk berkata tidak terhadap produk materil (pop culture) modern, kita hanya disajikan tontonan yang memukau dalam keterbatasan dialektik dan apresiasi terhadap produk seni (silent culture).
Pemaknaan terhadap karya seni bergeser dari makna apresiasi menjadi tuntutan yang harus tunduk pada aturan yang tidak jelas, karena parameter kelayakan “pasar” dalam komoditas seni telah di atur oleh kekakuan nilai budaya dari luar (western) yang hanya berorientasi terhadap kesenangan (pleasure). Symbol seni sudah tidak dimaknai sebagai pesan moral (sacral, religious) yang manusiawi, tapi seni menjadi trend popular yang miskin akan hasrat apresiasi dan interpretasi makna.
Muculnya produk seni kitsch “murahan” didalam ruang publik dianggap telah memberikan kepuasan terhadap tuntutan hiburan, padahal kenyataanya miskin akan interpretasi dan jauh dari kelayakan budaya (ethic) yang sudah eksis didalam khasanah budaya dan kebudayaan masyarakat lokal karawang. Alhasil terjadi fenomena budaya hedonisme yang memperlebar kesenjangan baik dalam tataran sosial, ekonomi, politik, religi, budaya dan jati diri (decadency).
Perkembangan seni dan budaya konsumerisme telah mempengaruhi hubungan antara manusia dan obyek-obyek seni , serta cara obyek-obyek itu di ciptakan. Didalam proses penciptaan seni , seniman akan terlibat dalam kancah diskursus konsumerisme, dan dengan demikian ia harus mempertimbangkan bentuk-bentuk seninya yang dilingkupi oleh prinsip-prinsip konsumerisme seperti’fashion’,’keusangan terencana’,’koleksi’, dsb.
Mencari Kemasan Ideal
Meningkatkan sumberdaya pelaku seni didalam meningkatkan mutu dan kwalitas seni pertunjukan menjadi hal mutlak didalam mempertahankan sekaligus menumbuh kembangkan potensi seni dan budaya karawang yang kelak akan menjadi identitas budaya yang mampu kita banggakan bersama dan menjadi milik bersama.
Dengan memberikan ruang ekspresi yang luas dan bebas kepada pelaku seni dan kebudayaan tentu akan berdampak lahir dan terciptanya kondisi yang positif antara kreatifitas dan nilai estetis dalam produksi kesenian yang bermutu dan mampu bersaing dengan komoditas seni global (kitch) yang terus membombardir keberadaan seni dan budaya daerah.
Mencari jawaban mengenai akar permasalah seni dan budaya dalam wujudnya (ontologism) jelas akan menguak permasalah mendasar didalam seni secara internal dan dapat dijadikan acuan didalam proses penilaian, sehingga landasan ide, gagasan yang mendasari lahirnya seni mampu di kuak dan menjadi modal untuk di apresiasikan sesuai dengan kondisi dan tuntutan jaman.
Selanjutnya adalah mengurai permasalahan kedalam struktur berfikir dan bertindak (epistemolgis), yang terencana dalam strategy budaya yang berkehendak membuat goal bagi terciptanya iklim berkesenian yang kondusif dan membangun pusat-pusat berkesenian sesuai dangan matra dan medianya.
Dalam tataran aksiologis pelaku seni, penikmat seni, pemikir dan kritikus seni bahu membahu menciptakan iklim yang ramah budaya (culture sustainable) sehingga proses tranformasi dari produk seni dan budaya mampu menstimulus generasi berikutnya untuk berpartisipasi dalam membangun watak, karakter dan jati diri yang berkepribadian. Dengan tidak meninggalkan wawasan dan cara berpikir global dalam meningkatkan seni dan budaya lokal.
Pemikiran mengenai bentuk kemasan bagi potensi seni karawang memerlukan berbagai telaah dan pendalaman terhadap bentuk-bentuk kesenian yang akan dikemas. Seperti beberapa tahapan di bawah ini :
1. Menginventarisir bentuk dan ragam (genre) seni yang tumbuh dan berkembang di wilayah Karawang baik yang tradisional maupun yang modern.
2. Melakukan riset dan kajian yang komprehensif terhadap objek-objek seni yang sudah di-inventarisir, sehingga dapat menemukan bentuk seni yang ideal dan berpotensi besar untuk dijadikan ikon bagi seni karawang.
3. Melakukan klasifikasi terhadap bentuk-bentuk karya seni yang bersesuaian dengan etika dan estetika.
4. Meningkatkan kwalitas sumberdaya seni dan budaya.
5. Melakukan sosialisasi dan edukasi secara berkesinambungan melalui saluran formal maupun nonformal, serta pemanfaatan teknologi didalam proses sosialisasi, komunikasi dan transformasi.
6. Mengkomunikasikan objek seni dengan publik sehingga terjadi interaksi yang kondusif antara pesan yg terkandung dalam objek seni dengan apresiasi audien (estetika dan etika).
7. Menciptakan iklim yang bebas bagi ruang ekspresi dan dialog seni dalam rangka menumbuhkan kreatifitas sehingga melahirkan karya “seni baru” sesuai tuntutan jaman.
Begitu banyak potensi dalam seni yang dapat di gali sehingga mampu memberikan kontribusi yang positif terutama dalam membangun karakter dan jati diri karawang kedepannya, harapan akan terwujudnya karawang sebagai salah satu kota seni di wilayah jawa barat bukan lah hal yang mustahil.
Karawang memiliki sumberdaya (seniman) yang berlimpah, mulai dari seniman tradisi sampai dengan seniman kontemporer. Kesemuanya memiliki harapan yang sama memajukan dan mengembangkan potensi daerah dengan potensi seni yang dimiliki oleh dan dari seniman karawang sendiri. Tinggal bagaimana kita membangun komunikasi dan dialog yang intens didalam rangka menyatukan tujuan dan cita-cita bersama.
Selain itu partisipasi masyarakat didalam proses pengkemasan potensi seni pun mutlak dan menjadi syarat utama yang harus terpenuhi, artinya masyarakat di arahkan untuk menjadi subjek budaya yang kritis dan aparesiatif terhadap potensi seni dan budaya miliknya.
Dalam hal terentu seni yang otonompun dapat dijadikan media propaganda dan promosi dalam setiap kebijakan pemerintah untuk di komunikasikan dengan publik secara manusiawi. Dalam hal ini seni tidak hanya menjadi media hiburan saja tetapi menjadi media komunikasi yang mampu menyerap aspirasi dan interaksi yang kondusif antara pemerintah dengan rakyatnya, antara yang memimpin dengan yang dipimpin.
Pengoptimalan potensi seni dan budaya di harapkan mampu membangkitkan semangat masyarakat untuk bergerak maju ke depan dan siap berkompetisi dalam khasanah budaya globalisasi, tentu dengan tidak meninggalkan adat istiadat dan budaya lokal yang menjadi ciri dan identitas budaya karawang.

Karawang April 2011
Eka Priadi Kusumah

Makalah budaya untuk :
Talk Show ”PROMOSI WISATA MELALUI MEDIA ELEKTRONIK DAN MEDIA LAINNYA”
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Karawang.

DEMOKRASI INDONESIA MENUJU KEBANGKITAN!

Pasca Pileg dan Pilpres 2009, sungguh melegakan dan indah suasananya!, bagaimanapun dalam setiap perlombaan/kontes tentu ada pihak yang menang dan ada yang kalah, tanpa terkecuali!. suasana tenang tanpa konflik diantara para pendukung kontestan mencerminkan betapa Aura Demokrasi di Indonesia beranjak dewasa dan meningkatnya jumlah pemilih juga membuktikan betapa ketertarikan (interest) pemilih menjadi barometer penting dalam tumbuh kembangnya demokrasi sebagai medium aspirasi dan ekspresi politik indonesia!.
nampaknya bukan tidak mungkin 2001 akan menjadi tolak ukur penting (momentum) bankitnya raksasa asia baru dalam peta demokrasi di dunia, bravo demokrasi..bravo indonesia baru!!!!!!a9b688ae4dc752be