MENGEMAS POTENSI SENI KARAWANG
“Potensi Seni Dalam Membangun Karakter Dan Jati Diri”
Oleh : Eka Priadi Kusumah

Prolog
Seni dalam khasanah kebudayaan karawang memiliki motif, ragam, bentuk dan karakter yang mencerminkan adat istiadat serta etos karawang secara simbolik. Dalam keragaman bentuk serta wujudnya, seni yang menjadi milik bersama lahir dan dibesarkan dalam kondisi yang berbeda sesuai dengan jamannya. Bentuk dan keaneka ragaman seni sebagai karya cipta dan kreasi dalam ruang ekspresi menjadi penanda dan ikon masyarakat dalam realitas budaya karawang.
Menyadari entitas seni sebagai medium penting didalam membangun karakter dan jati diri, sudah sepantasnya seni mendapat peran penting didalam proses pembangunan yang seimbang antara pembangunan phisik/materil dan moral yang berkesinambungan sehingga seni berpotensi vital didalam proses pembangunan jati diri atau karakter budaya yang berkepribadian . Sudah menjadi isu global bahwa seni memiliki peran yang sentral didalam membangun watak, karakter dan jati diri sebuah bangsa. Contoh konkret adalah bagaimana Amerika bisa menjadi besar dan terkenal ke seluruh dunia melalui propaganda budaya, medium film di potensikan sebagai alat untuk membentuk opini dan pencitraan amerika sebagai negara “super power”, “polisi dunia”,dan lain sebagainya, pesan tersebut di kemas dalam film yang diproduksi sineas hollywood seperti film Rambo, missing in action dan lain-lain. Dalam film tersebut amerika tercitrakan tidak pernah kalah dan selalu menjadi pihak yang seakan-akan “bersih” dari noda perang di kawasan Vietnam. Amerika dicitrakan menjadi pahlawan kebenaran, mereka bukan penjajah tapi pelopor demokrasi dan seterusnya.
Kesadaran akan potensi seni yang begitu penting bagi pencitraan dan pembangunan karakter serta jati diri, sudah selayaknya potensi seni ini ditumbuh kembangkan sesuai dengan etika dan estetika yang melekat dalam adat istiadat setempat.
Potensi dan tantangan
Apresiasi terhadap seni pada saat ini seakan memudar seiring pesatnya perkembangan teknologi hiburan dalam berbagai medium, produksi seni “kitsch” (murahan) membombardir secara sporadis di ruang publik sehingga publik di paksa masuk kedalam ruang “budaya diam” yang hanya terfokus kepada segmen hiburan belaka, sedangkan di sisi lain aspek apresiasi menjadi tumpul karena nilai estetika dan etika di kaburkan kedalam idiom-idiom yang dangkal akan interpretasi makna terhadap symbol dari seni itu sendiri.
Seni merupakan bentuk aktivitas jiwa yang menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan, sehingga keberadaan seni melekat di berbagai aspek kehidupan. Seni menjadi medium yang mampu memberikan efek tertentu terhadap seniman (creator) dan penikmat (audience) dalam fenomena interaksi yang melahirkan bentuk-bentuk dan idiom-idiom estetik.
Dalam tajuk “Mengemas Potensi Seni Karawang”, jika kita urai pemaknaannya tajuk diatas mengarah kepada penguatan potensi dari seni, tentu bukan hanya potensi yang berorientasi kepada potensi ekonomi semata, seni juga harus mampu “membebaskan” belenggu “kebodohan dan kemiskinan” moral dalam setiap keberadaan kehidupan manusia, seni juga harus memberikan kontribusi positif bagi berbagai aspek kehidupan.
Di dalam proses pengkemasan potensi seni dibutuhkan analisa dan kurasi (seleksi) yang sedemikian rupa (objektif) sehingga hasil dari kemasannya tidak mengurangi kadar dari symbol yang terkandung , fungsi dan kegunaan (uses and functions) serta nilai-nilai estetis dari seni sebagai medium ekspresi dan etika yang menjadi landasan berpikir dan bertindak .
Kita sadar kebudayaan bergerak dinamis, dan pada akhirnya seni pun di tuntut untuk memiliki bentuk yang dinamis, seni harus bergerak seiring zaman dan terus berusaha memberikan pencerahan bagi kehidupan dalam berbagai bentuk dan geraknya dalam ruang yang otonom. Tapi di sisi yang lain Seni tradisi terkadang kurang mampu beradaptasi dengan tuntutan yang terus berubah seiring pola dan gaya hidup masa kini (contemporary), di karenakan ketidak pekaan seniman didalam memahami pergerakan budaya global.
Urban Culture
“para consumer kini mencari sesuatu yang personal, bermain dan menyenangkan pada obyek-obyek yang mereka beli. Akibatnya, obyek harus di muati kualitas ‘sensual’: selain dapat dimengerti, ia juga harus dapat ‘dirasakan’.
(Francois Burkhardt,”design and avant-postmodernism,1988;149).
Dari kutipan diatas, tergambar jelas bahwa kondisi jaman telah menuntut lebih dari sekedar karya seni yang konvensional, dengan kata lain objek seni harus mampu memberikan efek nyata dalam ruang publik yang begitu heterogen dari latar belakang budaya yang berbeda pula (multi culture).
Karawang dalam beberapa dekade telah mengalami migarasi budaya, dari budaya pertanian agraris menjadi budaya industry baru ini fakta dari realitas budaya. Kondisi ini memungkinkan datangnya pendatang dengan latar belakang budaya yang berbeda masuk kedalam khasanah budaya lokal karawang (urban culture). Terjadinya proses persilangan budaya dalam ruang budaya baru karawang tidak bisa dihindari, di tambah dengan masuknya kebudayaan popular dari barat yang menjadikan seni lokal karawang “terkoyak” dalam dinamika perubahan yang tidak seimbang.
Pendekatan secara intrinsik terhadap tekstual seni serta pendekatan ekstrinsik terhadap kontekstual seni merupakan metode yang menyeluruh (holistic) didalam proses pengkemasan potensi seni. Fenomena budaya pop yang menjadi trend di dalam kehidupan budaya masa kini (pop culture) harus mampu dijadikan benchmark atau tolak ukur didalam proses transformasi seni ke dalam ruang publik.
Kitsch
‘seni dizaman kita hiruk pikuk dengan himbauan untuk diam”
(susan sontag, ‘the aesthetic of silence’1988;125)
Kita hidup di era dimana kreatifitas seni di belenggu oleh pemaknaan nilai materil yang menjadi symbol gaya hidup (life style) semuanya serba cepat dan bergerak dalam arus perubahan yang deras mengalir dalam pola pikir konsumerisme yang instan, tidak ada lagi kesempatan untuk berkata tidak terhadap produk materil (pop culture) modern, kita hanya disajikan tontonan yang memukau dalam keterbatasan dialektik dan apresiasi terhadap produk seni (silent culture).
Pemaknaan terhadap karya seni bergeser dari makna apresiasi menjadi tuntutan yang harus tunduk pada aturan yang tidak jelas, karena parameter kelayakan “pasar” dalam komoditas seni telah di atur oleh kekakuan nilai budaya dari luar (western) yang hanya berorientasi terhadap kesenangan (pleasure). Symbol seni sudah tidak dimaknai sebagai pesan moral (sacral, religious) yang manusiawi, tapi seni menjadi trend popular yang miskin akan hasrat apresiasi dan interpretasi makna.
Muculnya produk seni kitsch “murahan” didalam ruang publik dianggap telah memberikan kepuasan terhadap tuntutan hiburan, padahal kenyataanya miskin akan interpretasi dan jauh dari kelayakan budaya (ethic) yang sudah eksis didalam khasanah budaya dan kebudayaan masyarakat lokal karawang. Alhasil terjadi fenomena budaya hedonisme yang memperlebar kesenjangan baik dalam tataran sosial, ekonomi, politik, religi, budaya dan jati diri (decadency).
Perkembangan seni dan budaya konsumerisme telah mempengaruhi hubungan antara manusia dan obyek-obyek seni , serta cara obyek-obyek itu di ciptakan. Didalam proses penciptaan seni , seniman akan terlibat dalam kancah diskursus konsumerisme, dan dengan demikian ia harus mempertimbangkan bentuk-bentuk seninya yang dilingkupi oleh prinsip-prinsip konsumerisme seperti’fashion’,’keusangan terencana’,’koleksi’, dsb.
Mencari Kemasan Ideal
Meningkatkan sumberdaya pelaku seni didalam meningkatkan mutu dan kwalitas seni pertunjukan menjadi hal mutlak didalam mempertahankan sekaligus menumbuh kembangkan potensi seni dan budaya karawang yang kelak akan menjadi identitas budaya yang mampu kita banggakan bersama dan menjadi milik bersama.
Dengan memberikan ruang ekspresi yang luas dan bebas kepada pelaku seni dan kebudayaan tentu akan berdampak lahir dan terciptanya kondisi yang positif antara kreatifitas dan nilai estetis dalam produksi kesenian yang bermutu dan mampu bersaing dengan komoditas seni global (kitch) yang terus membombardir keberadaan seni dan budaya daerah.
Mencari jawaban mengenai akar permasalah seni dan budaya dalam wujudnya (ontologism) jelas akan menguak permasalah mendasar didalam seni secara internal dan dapat dijadikan acuan didalam proses penilaian, sehingga landasan ide, gagasan yang mendasari lahirnya seni mampu di kuak dan menjadi modal untuk di apresiasikan sesuai dengan kondisi dan tuntutan jaman.
Selanjutnya adalah mengurai permasalahan kedalam struktur berfikir dan bertindak (epistemolgis), yang terencana dalam strategy budaya yang berkehendak membuat goal bagi terciptanya iklim berkesenian yang kondusif dan membangun pusat-pusat berkesenian sesuai dangan matra dan medianya.
Dalam tataran aksiologis pelaku seni, penikmat seni, pemikir dan kritikus seni bahu membahu menciptakan iklim yang ramah budaya (culture sustainable) sehingga proses tranformasi dari produk seni dan budaya mampu menstimulus generasi berikutnya untuk berpartisipasi dalam membangun watak, karakter dan jati diri yang berkepribadian. Dengan tidak meninggalkan wawasan dan cara berpikir global dalam meningkatkan seni dan budaya lokal.
Pemikiran mengenai bentuk kemasan bagi potensi seni karawang memerlukan berbagai telaah dan pendalaman terhadap bentuk-bentuk kesenian yang akan dikemas. Seperti beberapa tahapan di bawah ini :
1. Menginventarisir bentuk dan ragam (genre) seni yang tumbuh dan berkembang di wilayah Karawang baik yang tradisional maupun yang modern.
2. Melakukan riset dan kajian yang komprehensif terhadap objek-objek seni yang sudah di-inventarisir, sehingga dapat menemukan bentuk seni yang ideal dan berpotensi besar untuk dijadikan ikon bagi seni karawang.
3. Melakukan klasifikasi terhadap bentuk-bentuk karya seni yang bersesuaian dengan etika dan estetika.
4. Meningkatkan kwalitas sumberdaya seni dan budaya.
5. Melakukan sosialisasi dan edukasi secara berkesinambungan melalui saluran formal maupun nonformal, serta pemanfaatan teknologi didalam proses sosialisasi, komunikasi dan transformasi.
6. Mengkomunikasikan objek seni dengan publik sehingga terjadi interaksi yang kondusif antara pesan yg terkandung dalam objek seni dengan apresiasi audien (estetika dan etika).
7. Menciptakan iklim yang bebas bagi ruang ekspresi dan dialog seni dalam rangka menumbuhkan kreatifitas sehingga melahirkan karya “seni baru” sesuai tuntutan jaman.
Begitu banyak potensi dalam seni yang dapat di gali sehingga mampu memberikan kontribusi yang positif terutama dalam membangun karakter dan jati diri karawang kedepannya, harapan akan terwujudnya karawang sebagai salah satu kota seni di wilayah jawa barat bukan lah hal yang mustahil.
Karawang memiliki sumberdaya (seniman) yang berlimpah, mulai dari seniman tradisi sampai dengan seniman kontemporer. Kesemuanya memiliki harapan yang sama memajukan dan mengembangkan potensi daerah dengan potensi seni yang dimiliki oleh dan dari seniman karawang sendiri. Tinggal bagaimana kita membangun komunikasi dan dialog yang intens didalam rangka menyatukan tujuan dan cita-cita bersama.
Selain itu partisipasi masyarakat didalam proses pengkemasan potensi seni pun mutlak dan menjadi syarat utama yang harus terpenuhi, artinya masyarakat di arahkan untuk menjadi subjek budaya yang kritis dan aparesiatif terhadap potensi seni dan budaya miliknya.
Dalam hal terentu seni yang otonompun dapat dijadikan media propaganda dan promosi dalam setiap kebijakan pemerintah untuk di komunikasikan dengan publik secara manusiawi. Dalam hal ini seni tidak hanya menjadi media hiburan saja tetapi menjadi media komunikasi yang mampu menyerap aspirasi dan interaksi yang kondusif antara pemerintah dengan rakyatnya, antara yang memimpin dengan yang dipimpin.
Pengoptimalan potensi seni dan budaya di harapkan mampu membangkitkan semangat masyarakat untuk bergerak maju ke depan dan siap berkompetisi dalam khasanah budaya globalisasi, tentu dengan tidak meninggalkan adat istiadat dan budaya lokal yang menjadi ciri dan identitas budaya karawang.

Karawang April 2011
Eka Priadi Kusumah

Makalah budaya untuk :
Talk Show ”PROMOSI WISATA MELALUI MEDIA ELEKTRONIK DAN MEDIA LAINNYA”
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Karawang.

Iklan