TERAYUN f9fd87339b5d46c4

Nampak dikejauhan srengenge merayap tegap
Aku malah terdiam dalam kesepian gulana
Riak air sungai Mahakam lembut mengusap retina mataku
Kubiarkan sebuah sajak larut dalam buihnya,

Dibukit yang tandus, pucuk akasia muda menjentik lambikan kepiluan..
Bahkan … tak bergeming sisa cakaran sang penakluk
Lalu,…desahan nafas sang penggoda erat mendekap dalam pekatnya bebatuan
Biarkan…biarkan ia menyapa dalam keheningan!

Di ujung jalan setapak yang curam, berdiri kaku pemahat batu..
Dilemparkanya segenggam batu hitam sambil meracau..
Habiskan…habiskan..hingga tak tersisa … lalu pergilah..
Namun jangan kau sisakan tangisan dalam kabohongan

………..Sisakan tandus mu untuk ku!

(Mahakam 05-2009)

NYANYIAN BEBATUAN

Air sungai meliuk ikuti irama nyanyian bebatuan…
Disirami jatuhnya daun-daun muda yang tua karena terpaksa
Tidak jauh dari persemayaman leluhurnya
Ranting yang tinggal sehasta raib dalam tajamnya gigi gergaji

Sungguh sepi pagi ini,
Tak terdengar merdunya nyanyian pesut,

Di hulu…kabarkan angin kepalsuan hingga ke hilir

Langit tampak muram berselendang awan pekat
Angin kering menghujam senja, tepat dikening borneo
Nampak siluet kepiluan dalam pundak yang luka karena rayuan

Lalu pertapa tua meratap dalam keheningan
Bersemedi dalam sungainya yang tenang
Lupakan ingkarnya raja kelana
Yang telah meluluh-lantakan nyanyian bebatuan

Semut hitam telah lama pergi bersama kupu-kupu
Mencari sarang baru hingga ke ujung mimpi dinihari
Kini waktu telah menelannya lumat hingga diujung kerongkongan

(Samarinda 06-2009)

Iklan