DIKEDALAMAN

Diantara gelisahnya awan……….

Dan gemuruhnya badai jiwa

Samar bayangmu melintas dicelah sukma

Perlahan…..,anggun,…lugas,..selaras seperti paras andromeda.

Walau dikejauhan, matahari terus saja,..dan tak bosan menatapmu!

Aku terus sembunyi dalam dekapan rembulan.

Belajar puisi cinta pada antariksa yang flamboyan

Hendaklah kau menerima apa adanya setangkai bunga metafora

Janganlah tidurmu kau hiasi dengan rajukan semilir angin…

Tapi mendekatlah pada kenyataan …..

Bahwa pungguk tidaklah akan mencitai sang rembulan.

Angin masih saja menyibakan rambutmu yang tertangkap cahaya matahari..

Membuatku mabuk,…..seperti nahkoda kehilangan arah haluan

Kau,…kamu,…,ya..tentunya kamu seorang … telah …menawan hasratku dikedalaman.

Agustus 99.

SECANGKIR MAKNA

Sabtu siang , mendung menggelayut dipucuk-pucuk pinus yang melambai.

Aku larut dalam semilir wewangian alam

Tak lama setelah kau menyuguhi aku secangkir makna cinta

Yang rasanya….bintangpun tak sanggup untuk menggambarkannya.

Pohon perdu bernyanyi merdu……

Sambut buaian cinta

Hilangkan kebekuan dalam pualam jiwa

Sept 99

PRELUDE

Kini aku terdampar pekatnya smaradahana

Walau kau hanya sisakan setangkup senyum

Cukuplah untuk malam yang tinggal sepenggal

Lalu kau bertutur tentang perjalanan….

Genggamanmu hentikan bayangan,

Andaikan waktu dapat bicara…

Mestinya ia akan berjanji.

Kini kita terpejam di penghujung malam

Hanya bisikan angin yang terdengar

Dan kita berpegang erat pada kereta takdir

Cikini, Oktober 1997

PERON

Kereta mu tak kunjung tiba

Aku terkunci dalam penantian

Hingga peluit ditiupkan berulang…

Diperon langkahku kaku terhenti…

Ketika rambutmu sibakan kebisuan

Berlari aku kejar kereta mu

Lamunanku tersadar oleh rayuan rel yang meliuk berkelok

Tatkala penyair jalanan lantunkan rayuan parau..

Disanalah kau duduk dalam pusaran ketidakpastian

Kau dan aku menanti waktu …

Kau dan aku terdiam dalam gelisah kata..

Kau dan aku porak-poranda oleh kata-kata yang membisu

Lalu bayanganku menghampiri gelisahmu….

Tanpa ragu kau katakan….

Ciumlah aku hingga kereta ini kembali!

Cikini, Nopember 1997

SILUET

Di tepian danau kau menari

Hanya dibalut selimut tipis halimun yang mengambang

Lekuk tubuhmu ceritakan perjalanan

Sampai titik kulminasi ini aku terhenyak

Diantara desahan nafasmu

Aku… merenung,

Sulit gambarkan siluet dari lekuknya kegamangan birahi

Meraja……dan melingkupi kesadaran.

Tinggal detak yang tersisa dalam dada

Segalanya nyata dalam gambaran angan

Seperti riaknya danau

Yang hijau kebiruan dalam dekapan

Jatiluhur feb 1996

DINDA

Masih teringatkah dinda tentang masa yang kerap meneggelamkan kita?

Masih teringatkah dinda nyanyian pelog atau slendro dalam pupuh yang selalu kita gubah?

Lupakah dinda akan sapaan ilalang yang selalu saksikan percumbuan kita di saat meleburkan asmara dikedalaman senja?

Tidakah dinda merasa bahwa selama ini kata-kata tidaklah cukup untuk buktikan segenap rasa dalam renungan malam?

…………dinda hanya senyum,

Hanya menebar tatapan dalam, hingga keraguan itu terkelupas.

Dinda, selalu saja terucap kata tentang fananya cinta diantara celah makna antara hidup dan matinya rasa!

Dinda, anggunmu dalam tersenyum adalah jelmaan dari karatnya waktu yang menanti habisnya syahwat yang terumbar langit!

…hingga awan dan mega-mega berarak sambut tiupan cinta dari surga!

…hingga tiada mungkin lagi aku bertanya tentang cinta padamu dinda!

Karawang, des 2000

Iklan