Archive for Mei, 2009

DIANTARA GELISAHNYA AWAN

DIKEDALAMAN

Diantara gelisahnya awan……….

Dan gemuruhnya badai jiwa

Samar bayangmu melintas dicelah sukma

Perlahan…..,anggun,…lugas,..selaras seperti paras andromeda.

Walau dikejauhan, matahari terus saja,..dan tak bosan menatapmu!

Aku terus sembunyi dalam dekapan rembulan.

Belajar puisi cinta pada antariksa yang flamboyan

Hendaklah kau menerima apa adanya setangkai bunga metafora

Janganlah tidurmu kau hiasi dengan rajukan semilir angin…

Tapi mendekatlah pada kenyataan …..

Bahwa pungguk tidaklah akan mencitai sang rembulan.

Angin masih saja menyibakan rambutmu yang tertangkap cahaya matahari..

Membuatku mabuk,…..seperti nahkoda kehilangan arah haluan

Kau,…kamu,…,ya..tentunya kamu seorang … telah …menawan hasratku dikedalaman.

Agustus 99.

SECANGKIR MAKNA

Sabtu siang , mendung menggelayut dipucuk-pucuk pinus yang melambai.

Aku larut dalam semilir wewangian alam

Tak lama setelah kau menyuguhi aku secangkir makna cinta

Yang rasanya….bintangpun tak sanggup untuk menggambarkannya.

Pohon perdu bernyanyi merdu……

Sambut buaian cinta

Hilangkan kebekuan dalam pualam jiwa

Sept 99

PRELUDE

Kini aku terdampar pekatnya smaradahana

Walau kau hanya sisakan setangkup senyum

Cukuplah untuk malam yang tinggal sepenggal

Lalu kau bertutur tentang perjalanan….

Genggamanmu hentikan bayangan,

Andaikan waktu dapat bicara…

Mestinya ia akan berjanji.

Kini kita terpejam di penghujung malam

Hanya bisikan angin yang terdengar

Dan kita berpegang erat pada kereta takdir

Cikini, Oktober 1997

PERON

Kereta mu tak kunjung tiba

Aku terkunci dalam penantian

Hingga peluit ditiupkan berulang…

Diperon langkahku kaku terhenti…

Ketika rambutmu sibakan kebisuan

Berlari aku kejar kereta mu

Lamunanku tersadar oleh rayuan rel yang meliuk berkelok

Tatkala penyair jalanan lantunkan rayuan parau..

Disanalah kau duduk dalam pusaran ketidakpastian

Kau dan aku menanti waktu …

Kau dan aku terdiam dalam gelisah kata..

Kau dan aku porak-poranda oleh kata-kata yang membisu

Lalu bayanganku menghampiri gelisahmu….

Tanpa ragu kau katakan….

Ciumlah aku hingga kereta ini kembali!

Cikini, Nopember 1997

SILUET

Di tepian danau kau menari

Hanya dibalut selimut tipis halimun yang mengambang

Lekuk tubuhmu ceritakan perjalanan

Sampai titik kulminasi ini aku terhenyak

Diantara desahan nafasmu

Aku… merenung,

Sulit gambarkan siluet dari lekuknya kegamangan birahi

Meraja……dan melingkupi kesadaran.

Tinggal detak yang tersisa dalam dada

Segalanya nyata dalam gambaran angan

Seperti riaknya danau

Yang hijau kebiruan dalam dekapan

Jatiluhur feb 1996

DINDA

Masih teringatkah dinda tentang masa yang kerap meneggelamkan kita?

Masih teringatkah dinda nyanyian pelog atau slendro dalam pupuh yang selalu kita gubah?

Lupakah dinda akan sapaan ilalang yang selalu saksikan percumbuan kita di saat meleburkan asmara dikedalaman senja?

Tidakah dinda merasa bahwa selama ini kata-kata tidaklah cukup untuk buktikan segenap rasa dalam renungan malam?

…………dinda hanya senyum,

Hanya menebar tatapan dalam, hingga keraguan itu terkelupas.

Dinda, selalu saja terucap kata tentang fananya cinta diantara celah makna antara hidup dan matinya rasa!

Dinda, anggunmu dalam tersenyum adalah jelmaan dari karatnya waktu yang menanti habisnya syahwat yang terumbar langit!

…hingga awan dan mega-mega berarak sambut tiupan cinta dari surga!

…hingga tiada mungkin lagi aku bertanya tentang cinta padamu dinda!

Karawang, des 2000

SEMESTA KETIDAKSADARAN

SEMESTA KETIDAKSADARAN

EKA P KUSUMAH

AKU ADALAH YANG MELAYANG DILUAR BATAS SEMESTA DINDING KESADARAN

MATAHARIPUN TAK SANGGUP MELANTAKAN KEINGINAN BISU

DARI POSE-POSE PEMIKIRAN YANG TELANJANG, LIAR, NAKAL, NANAR…….

MERANGKUL HINGGA DIUJUNG PELUPUK BINTANG.

AKAL DAN KESADARAN DI BELAH DAN DICINCANG DALAM WAJAN KEMATIAN KATA-KATA, HINGGA ASING, MASA LALU, JEDA, TERBURAI, PECAH!… DALAM KECEPATAN KETAKBERATURAN.

MENATA SERPIHAN WAKTU MENJADI CITRAAN YANG MEMBIUS, MENUSUK UBUN-UBUN HINGGA TIDAK ADA TITIK BALIK, TIDAK ADA WAJAH YANG SATU UTUH DALAM DIMENSI,….KACAU, MEMBENTUK WUJUD ABSURDITAS WAKTU YANG MELINGKAR-LINGKAR BERKELEBAT BERGANTIAN DENGAN KECEPATAN YANG TAK MAMPU DITANGKAP RETINA KUMAL.

LALU…… SEMUANYA MUNCUL DAN MENGHILANG DALAM BENTUK ANGKA MATRIKS NOL DAN SATU YANG BERAT MENINDIH RUANG HAMPA TANPA KATA DAN BAU.

AKU ADALAH SEMESTA KESEMERAWUTAN KESADARAN

AKU ADALAH YANG HIDUP DIANTARA YA DAN TIDAK!

AKU ADALAH YANG MENGHIDUPKAN PILIHAN INI DAN INI JUGA DAN ITU!

TAK ADA ENGKAU SELAIN AKU!

SEPERTI WAKTU YAN KUBELI DENGAN MIMPI MU!

SEPERTI TIDUR YANG KAU GADAIKAN

SEMUANYA TANPA GERAK DAN LAKU YANG KUATUR DALAM KEBUTAAN MAKNA.

LALU KINI TERSISA PERTANYAAN JEDA,…. SIAPA KAU?

PUISI KATANYA

EKA P KUSUMAH

GERIMIS

Senja tersiram hujan, dipenghujung nopember

Setelah puisi ku larut dalam segelas capucino

Itupun tak lama setelah dedaunan bercerita tentang bunga yang ranum dalam kelopaknya

Lalu……….. kunang-kunang menyapa dalam sisa gerimis.

Masih adakah nyanyian dalam kehangatan balutan sutera

Ketika  dinginya waktu beringsut dicakrawala.

Nopember 1998

MASIH JANUARI

Masih saja berdiri mencari garis-garis yang memanjang saling memotong

Masih saja tertegun dalam balutan bait-bait keraguan

Masih saja bernyanyi lantunkan symphoni memabukan

Dan diantara beningnya cahaya matamu

Kutangkap …. aroma harumnya keniscayaan

Membelah nurani hingga tak berujung

Menggoda ….. landai dan meruncing.

Jan 00

RINAI

Rinai …..

Haruskah aku bertanya tentangnya?

….. hanya terdiam dalam kepekatan.

Rinai ……

Dimanakah gerangan kasihnya?

….. hanya bayangan yang coba menjawab dengan kebisuan.

Rinai …. ..

Akankah ia berkunjung padaku?

….. hanya ketika pintu itu diketuk oleh waktu.

Rinai ……..

Bolehkah ciuman membangunkan tidurnya?

…… tidak hanya untukmu,…. dan bukan juga untuknya!

Rinai ….., lalu,……

Biarkan aku terbakar ole api cemburumu…

Maret 00

PENYAIR TUA

Ia sudah lupa cara menata kata

Ia sudah lupa bagaimana bertutur

Ia sudah pula lupa menumpahkan semangkuk makna

Ketika ia tertidur bermimpi dalam lautan kosakata

Lalu ketika ia terbangun……..

Tak mampu lagi bertanya tentang arti semantik

……hingga hanya bertemankan matahari yang selalu setia

……hingga tinggal gunung bisu yang masih ajeg dalam duduknya

…..kemudian iapun bergegas untuk tidur dalam keabadianNya

April 2001

TINJAUAN TERHADAP RUANG – RUANG DALAM PAROLE MUSIKALISASI PUISI! (SEBUAH PEMIKIRAN)

TINJAUAN TERHADAP RUANG – RUANG DALAM PAROLE MUSIKALISASI PUISI! (SEBUAH PEMIKIRAN)

EKA P KUSUMAH.

’Seni dapat mengungkapkan hal-hal yang tidak dapat diungkapkan secara lain, seni memberikan penglihatan kepada pemikiran spekulatif, sehingga yang ”buta” dapat ”melihat” transedensi, antara keabadian dan waktu. Seni merupakan suatu dunia antara mistik dan eksistensi,…………………….. seni merupakan puncak kesadaran. Dalam seni kesadaran membebaskan diri dari kemelaratan hidup. Tetapi karena seni tidak mengenal keterlibatan dan tidak menerima ikatan, maka dalam seni hanya diciptakan ruang, dan hanya diberikan mekungkinan-kemungkinan. (Karl Jaspers).

Berbicara mengenai musikalisasi puisi sebagai medium seni, lantas menyadarkan kita tentang pemahaman kesadaran akan ”ruang-ruang seni yang otonom”, yang terkandung didalamnya yaitu ruang ’musik’ dan ruang ’puisi’ yang bersatu didalam interaksi ”kerangka situasi” sebuah pementasan (pertunjukan).

Dua entitas seni tersebut menjadi medium pokok interpretasi didalam penggarapan karya musikalisasi puisi, tentu didalam proses kreatifnya akan memiliki perbedaan-perbedaan karakteristik yang berorientasi kedalam konsep pementasan. Perbedaan tafsiran (multi tafsir) sangat umum didalam penggarapan sebuah konsep pementasan dan bukanlah hal yang tabu.

Sebagai contoh, jika seniman musik yang menafsirkan sebuah karya sastra dalam hal ini teks puisi tentu akan mengadirkan interpretasi yang berbeda didalam konsep pementasannya secara menyeluruh, bisa saja musik menjadi ruang yang ”kuat” didalam garapannya bahkan mungkin hanya sedikit bahasa puisi yang terungkap secara lisan yang karena kesemuanya hampir ’terwakilkan’ oleh bahasa musik yang memainkan simbol-simbol didalam komponen musik (warna bunyi, intensitas bunyi, aksentuasi, harmoni, contrapung, lick, dll) sebagai penafsiran atas teks puisi, tentunya ini sah-sah saja.

Juga jika orientasi dilakukan oleh seniman puisi, tentu ’form’ dasar didalam penggarapan MP menjadi lain pula dalam hasil akhirnya. Puisi secara tekstual (main idea) yang di ’gabungkan’ dengan elemen musik dalam konteks MP tentu akan menghasilkan sebuah konsep pertunjukan yang ’berbeda’ pula, elemen musik sebagai ’ruang’ tentu akan lebih difungsikan hanya sebagai medium ’pelengkap’ saja didalam penggarapannya, mungkin hanya dijadikan backsound untuk lebih menghidupkan/ membangun atmosfir sesuai dengan interpretasi dari seniman puisi yang bersangkutan, atau mungkin pula akan menghasilkan bentuk-bentuk pementasan yang lain (tidak baku) bukan hanya sekedar pembacaan puisi yang diiringi musik an sich.

Komposisi musik vokal yang juga sering dijadikan ”altar” penguat atas interptretasi sebuah teks puisi (yang sering bernuansa kelam, biru dan romantis) dalam bentuk koor, gospel dan canon yang dijadikan bahan untuk membangun interpretasi (pemaknaan secara musikal).

Bahkan sering pula teks puisi di ”insert” kedalam sebuah komposisi musik berbentuk lagu dengan penyesuaian-penyesuaian teks atas nada atau sebaliknya untuk mendapatkan atmosphir yang dikehendaki secara subjektif. Dan tentunya ini sah juga, tidak ada yang salah!.

REKONSTRUKSI TERHADAP RUANG ”PUISI”

Puisi sebagai medium seni sastra memiliki kompleksitas tersendiri didalam sosoknya yang intristik, pemahaman mendalam mengenai struktur bangunan tekstual puisi berdasarkan kepada kode-kode yang membangun dasar makna atas teks yaitu ; kode bahasa, kode budaya dan kode sastra. Ketiga kode ini secara krusial menjadi komponen penting didalam menggali pemaknaan atas puisi.

Dalam wujudnya yang kompleks tersebut, puisi memiliki elemen-elemen penting yang menjadi jalinan utama (main frame) didalam keutuhan  menyeluruh sebagai sebuah karya sastra. Elemen-elemen tersebut diantaranya ;   rima dan ragam bunyi, komposisi kata-kata, enjambemen dan lain sebagainya. Sedangkan didalam proses pembacaan teks puisi juga dikenal dengan adanya tempo dan irama ( rima akhir, rima awal, asonansi, aliterasi, onomatopi, cachopony, euphony, negasi dll).

Dari komponen-komponen dasar yang dimiliki ruang puisi, tentunya kematangan puisi sebagai sebuah karya seni jelaslah tampak dari nilai estetikanya yang holistik membangun ruang ekspresi dan pemaknaan atas kata dan intensitas bunyi dari kata yang dirangkai sehingga menghasilkan struktur bunyi musikal yang identik dengan pencapaian atmosphir yang di bangun oleh komposisi kata, tempo dan gaya pembacaan dari penyairnya!.  Apabila kita menganggap bahwa puisi butuh media musikal dari luar dirinya, maka pada dasarnya puisipun memiliki makna ’musikal’ internalnya sendiri. Bahkan ada pernyataan ekstrim ”kenikmatan membaca puisi, yaitu ketika membacanya tanpa musik, karena sejatinya alam disekitarnya adalah irama musik bagi puisinya”.

REKONSTRUKSI TERHADAP RUANG ”MUSIK-ALISASI”

Definisi dari musik adalah ” ilmu pengetahuan dan seni tentang kombinasi ritmik dari nada-nada, baik vokal maupun instrumental, yang meliputi melodi dan harmoni sebagai ekspresi dari segala sesuatu yang ingin diungkapkan terutama aspek emosional” (david Ewen, the home of musical knowledge, 1965.)

Sama seperti puisi yang juga memiliki konsep membangun pemaknaan emosional dalam karyanya, maka puisi dan musik memiliki prinsip dasar yang identik diantara keduanya. Bentuk musik terbentang dalam ruang yang sifatnya spesial, maka musik dapat disejajarkan dengan bentuk-bentuk dalam karya seni sastra. Jika bentuk-bentuk sastra ditulis dari kiri ke kanan (kecuali dalam bahasa tertentu misalnya; bahasa Simetik dan bahasa-bahsa oriental), bentuk-bentuk musik juga ditulis dari kiri ke kanan dan dari bawah ke atas, sehingga arah dari kiri ke kanan menunjukan ruang dimensi waktu, sedangkan dari bawah ke atas menunjukan ruang dimensi yang sifatnya akustik musikal. Kesejajaran dalam kalimat musik, seperti halnya dalam kalimat bahasa, terjadi antara frase anteseden dan frase konsekuen. Ini dapat dilihat dari tulisan musik secara horisontal dari kiri ke kanan. Sedangkan kesejajaran vertikal diantara dua garis melodi atau lebih yang berbunyi bersamaan, dapat dilihat dari tulisan musik secara horisontal sekaligus vertikal, dan pengamatan secara vertikal khusus bagi keselarasan bunyi (harmoni).Suhatjarja.

DEFINISI YANG TAK TERDEFINISIKAN!

Dalam perkembangannya, musikalisasi puisi (MP) banyak mendapat respon dari medium-medium seni yang lain seperti teater dan tari yang juga mulai banyak mengadaptasi puisi sebagai konsep dasar dalam karya pementasannya. Dan ini tentu akan memberikan khasanah baru yang akan memperkaya bentuk-bentuk pertunjukan MP.

Musikalisasi Puisi (MP) sebagai media ekspresi tentu memiliki nilai-nilai estetis yang tidak terbatas (terbuka) terhadap pengembangan didalam pencarian ”bentuk” nya yang kaya akan keberagaman tafsir dan akan menghadirkan sebuah bentuk pertunjukan seni yang mampu mengakomodir berbagai entitas seni (bersinergi), aspiratif dan nilai makna dalam entitas puisi dapat ’tertangkap’ oleh apresiasi penonton (pendukungnya).

Banyak ulasan-ulasan tentang pemaknaan kata dari bentuk musikalisasi puisi, mulai dari penafsiran musik yang mengiringi puisi, puisi yang di musikalisasi, musik berpuisi, gerak teatetrikal puisi (puisi teatrikal), dramatisasi puisi dan lain sebagainya, tentu ini akan memperkaya MP sebagai entitas karya seni yang mendapat tempat dan respon positif dari medium seni lainnya. Tapi ada juga yang masih terjebak didalam ’kedangkalan’ tafsir terhadap MP, seolah-olah MP adalah sebuah karya yang ”mutlak” dengan bentuknya yang ada, seolah-olah dibuat baku sehingga tidak boleh di rubah-rubah (tanpa aturan yang jelas dan mendasar), sehingga MP menjadi kaku dan miskin akan eksplorasi, aspirasi, interpretasi dan pemaknaan ekspresi. Ini tidak sejalan dengan wujud dari sebuah bentuk kesenian yang membutuhkan proses kreatif dan penggalian ide-ide original (avant garde) yang terus ber-evolusi bahkan berevolusi seiring dengan perkembangan diskursus seni yang kontemporer!.

’dengan menggambarkan tiga contoh, masing-masing dari gaya pribadi,gaya nasional dan gaya periode, telah dijelaskan mengenai tujuan sejarah kesenian yang menganggap gaya terutama sebagai ekspresi, yaitu ekspresi dari jiwa suatu bangsa sebagai ekspresi dari tempramen pribadi.

…deskripsi mengenai perbedaan antara raphael dan rembrandt adalah semata-mata penghindaran dari masalah utama sebab yang penting bukanlah untuk menunjukan perbedaan keduanya, melainkan bagaimana keduanya dengan cara yang berbeda telah mengasilkan yang sama, yaitu seni yang agung’.Heinrich Wolfflin, 1929, h 10.

MUSIKALISASI PUISI KARYA SENI MUTLAK, ATAU MEDIUM KREATIVITAS?

Ada beberapa pertanyaan mendasar ketika medium puisi yang terus berkembang seiring semangat kemajuan dunia seni kontemporer (post modernisme), pertanyaannya adalah :  Apakah Musikalisasi Puisi merupakan langkah etis dalam estetika puisi ?, Apakah hanya entitas musik saja yang ’mampu’ menghidupkan realitas pementasan sebuah karya puisi?, Apakah hanya musik dan puisi dua entitas yang koheren sebagai komponen dasar dalam MP?, Lalu bagaimana dengan teks puisi yang digubah kedalam ”lagu” dengan gaya tertentu juga tidak akan merubah makna intristik dari puisi tersebut? Bagaimana pemaknaan ekspresi antara puisi yang dibacakan tanpa musik dengan puisi yang dimusikalisasi? Bentuk musikalisasi seperti apa yang menjadi idiom baku dalam MP?, Apa batasan-batasan konkret untuk sebuah wujud real dari karya Musikalisasi Puisi? Dari pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin akan mendapat jawaban yang beragam dan kompleks, bahkan akan terbuka peluang lahirnya interpretasi baru terhadap wacana musikalisasi puisi!.

Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan diatas menjadi narasi besar didalam proses pencarian bentuk dan penafsiran atas pemaknaan tekstual dalam konteks ruang-ruang otonom Musikalisasi Puisi. Entah mau di bentuk seperti apa musikalisasi puisi oleh setiap seniman yang menggarapnya, kebebasan ada ditangan kreatornya, tanpa batasan nilai baku yang dikodifikasi dan tentunya output yang dihasilkan akan memberikan gaung segar atas originalitas karya dan etetika yang tidak dipaksakan.Toh didalam kenyataan bahwa sebuah karya seni yang otonom akan menjadi karya yang apresiatif ketika mendapat respon dari penonton (pendukungnya) sehingga komunikasi yang kondusif sejatinya terjadi diatas pentas.

Kita tak berharap terus berenang dalam samudera abstraksi yang tanpa batas dan akhir, setidaknya kita coba menggapai tepian pemikiran yang konkret dan membumi atas dasar fitrahnya sebuah karya seni yang menjadi milik bersama!.

Penulis adalah pencinta seni karawangPendiri teater 567 karawang , STK (Study Teater Karawang), Forum Apresiasi dan Kajian Seni Karawang

Email : eka_priadikusumah@yahoo.com

Sayap-sayap Patah

SAYAP-SAYAP PATAH
(naskah monolog)
EKA P KUSUMAH

Sebuah ruang tamu yang sederhana,….masuk seorang perempuan sambil menggerutu…

Hoh,… aktivitasku hari ini begitu melelahkan,……hanyut sudah tenagaku dibuatnya. Yang tersisa hanya kekeringan jiwa yang berkerak dalam tetes keringatku.

(sambil mengambil handuk kecil dan mengelap keringat yang mengucur di sekitar tagan dan mukanya).

Lagian mengapa juga tadi aku harus berlari mengejar bus kota itu!, padahal bisa saja aku santai menunggu bus yang lainnya lewat!, yah bagaimana lagi, itu adalah kenyataan yang aku buat sendiri

(sambil tertawa kecil menyesali kelakuannya)

Heem kayaknya terlalu berlebihan peristiwa di pemakaman sahabatku tadi, mengapa aku pura-pura tegar dihadapan ibunya Rene,.. bahkan aku mencoba untuk menenangkan tangisan histeris ibunya Rene ketika ia melihat kedatanganku. ”Sudahlah bu!”, ”Tabah ya bu!” ”Kita sama Bu! akupun sangat kehilangan Rene bu!”, ”jadi jangan terlalu ditangisi kepergiannya!, biarkan Rene tidur dengan tenang disisiNya!”. Begitulah aku memberikan nasehat kepada ibunya Rene.

(sambil duduk merenung) …

sekarang di ruang ini, ya.. di kursi ini si Rene selalu duduk, katanya ini adalah kursi kesenangannya kalau dia berkunjung kerumahku! ”Hai dara kalau bisa posisi kursi ini jangan dirubah ya!, ”Aku sangat suka dengan kursi ini!”. ”Walau tidak begitu empuk tapi kursi ini seperti ….ya seperti memiliki sesuatu yang dapat membuatku tenang… bener deh”!. Dapat kubayangkan raut wajahnya yang serius dan sedikit polos sambil menatapku penuh pengharapan!.dan kelakuannya itu selalu menjadi pertanda atas keinginannya agar aku penuhi, tentu sebagai sahabat dekatnya.

(sambil berjalan menghampiri kursi)

Di ruang ini kami berdua sering menghabiskan waktu berbagi cerita, bersenda gurau, ngerumpi membicarakan apa saja dari hal ringan, berat, sampai yang pribadi. Ini kami lakukan karena Rene sangat perhatian padaku. Ia sering menemaniku dirumah kalo aku butuhkan, karena kedua orang tuaku ditugaskan diluar daerah dan aku sangat kesepian, dan untungnya lagi ibunya rene mengijinkan bila rene menginap menemaniku setiap sabtu malam. Oh ,Ya…aku ingat sekali, kalau dia itu sangat suka sama cowok, terutama yang eksentrik!, dan dia sering meledek aku, ”wah…kamu payah Dara!… sampai usiamu lebih dari 17 tahun kau masih belum kenal dengan kemaskulinannya laki-laki, padahal kamu termasuk gadis yang tidak jelek-jelek banget”, iya sih,….tapi aku belum merasa perlu untuk kenal dengan laki-laki lebih dekat lagi!he..he.. dia tidak tahu sebenarnya aku sedang menaruh hati ku pada seorang cowok, dia adalah kaka kelas ku, Trio namanya!, sengaja aku menyimpan rahasia ini pada Rene, agar dia terkejut bila nanti aku sudah jadian dengannya!.Aku sudah tahu kalau Rene sudah berkencan dengan si Tomy anak basket yang pendiam, ketika kami kelas satu, namun tak lama setelah itu beberapa bulan berikutnya dia sudah berganti kencan dengan cowok lainnya, ”yaitu Bimo, dalam hal bercinta seperti ini aku dan dia berbeda, mungkin aku termasuk cewek yang tidak mudah jatuh cinta. Dari semenjak aku deklarasikan hubungan spesialku dengan Satrio pada si Rene dan saat itu dia bilang; ”gile..akhirnya kamu bisa takluk sama mahluk yang bernama co..wok!”, sampai sekarang aku masih tetap berjalan menjalin hubungan itu dengan Satrio, seperti tak tergantikan!

(tampak raut kesedihan mulai menjalar di wajahnya)

Kok baru sekarang sih!….. aku benar-benar kehilangan dia, sahabatku Rene!…, perasaan ku kini mulai sepi…., dan rasanya ada sesuatu yang kurang dan sedikit janggal kalau aku melihat kursi itu.

(diam memandang nanar kursi….)

(beranjak berdiri mengambil sebuah album lalu bergumam………)

Didalam album ini tersimpan kenangan abadi antara aku, Rene dan…

(tiba-tiba terdengar bunyi dering telepon, kemudian menghampiri dan mengangkatnya)

”Oh … Trio!, yah… hallo sayang!, dimana kamu? Tadi aku tungguin kamu di rumahnya Rene! Kemana sih kamu tega banget sih! Harusnya kamu datang ke acara pemakamannya, atau paling tidak telepon aku atau apalah kasih kabar tentang keberadaanmu, sebel…..pake acara dimatiin segala lagi hp-kamu, apa-apan sih??nyebelin tau!……. apa?…….oh ya?……kenapa gak bilang?… sekarang bagaimana?….ya udah,….heeh,….kasih kabar aku kalau sudah beres ya sayang!……ya!…..daah!….

(sambil menutup telepon, menggerutu) ,

”Ya itulah laki-laki gak bisa sedikit saja perasaannya dipakai, semuanya harus sistematislah!…jangan terlalu sentimentilah!,..pokoknya kadang sering sekali nyebelin apalagi dalam kondisi seperti sekarang ini, bergaya seperti orang bijak

(menggerutu menirukan seseorang)

…”sudahlah dara, yang pergi biarlah pergi sesuai kodrat alam, tinggal kita yang hidup harus terus melanjutkan sisa hidup ini!”.. emang bener sih!, tapi gak harus begitu banget !! minta sechedule ulang ke ke dosen kek!, itukan hanya pengajuan proposal untuk skripsi!, masa moment seperti sekarang ini tidak bisa diutamakan!.

(Duduk Sambil Membuka Album, sedikit tersenyum) ….

”oh..Rene, aku sangat ingat sekali dengan foto ini, ya saat kita berpose bersama setelah kita bermain hujan-hujanan setelah pulang sekolah!

(berdiri sambil menari hujan-hujanan)

kita berdua bernyanyi sambil berlari kecil di bawah guyuran hujan, kita berdua menari seperti dua gadis yang genit, dengan pakaian sekolah kita yang kuyup dan menempel ketat pada tubuh kita! Ya,..kita terlihat seksi dengan lekuk tubuh kita yang nampak ketat oleh pakaian seragam kita melekat erat karena basah!. Kita berdua tahu, di halte bus depan sekolah kita nampak mata-mata nakal melotot menelanjagi tubuh kita!, tapi kita tak peduli dan seolah membiarkan mereka berpesta dengan tontonan yang membuat mereka terkesiap! Dan kau berbisik padaku, lihat dara! Mata mereka seperti mau loncat melihat betapa seksinya kita! He..heee, dan kita pun tertawa riang dan lepas menjemput guyuran hujan yang turun menyirami jiwa kami yang bebas merdeka!

(berjalan menuju kursi, kemudian duduk)

Dan aku juga ingat moment yang indah saat kita berdua membolos sekolah dan pergi ke danau, disana kita berdua menguji nyali dengan berenang tanpa busana sehelaipun, kemudian kita nyebur bersama dibawah terik matahari seperti anak gembala kecil yang tanpa beban dan polos! Saat itu aku merasa seperti terlahir kembali, dan hal itu selalu menjadi moment terpenting dalam perjalanan persahabatanku dengan mu Rene!,ya,..

(sambil menagis)

, tapi kini …… moment-moment indah itu, menjadi terpatri dalam keabadian sisa-sisa waktuku yang menunggu datangnya kepastian perjalanan melintasi batas antara kehidupan fana dan keabadian nyata, seperti yang telah kau jalani. Rene bisakah kau bisikan padaku bagaimana situasi dan prosesnya di alam sana? Biar aku juga dapat mempersiapkan segalanya!ketika keabadian itu menjemputku!,

(memeluk kursi sambil merintih)

…rene disini aku membayangkan, sketsa waktu yang telah kita lalui bersama! Kita berdua merenda kebersamaan dengan keluh-kesah dan geliat emosi dalam jiwa kita yang merdeka, lepas, seperti angin yang berkehendak kemanapun akan berhembus…, kita berdua berbagi cerita fabel yang bertualang didunia antah-berantah dalam pencarian cinta yang hakiki, dalam kasih nyata yang tak terperih,….. Rene biarlah air mata ini berlinang mengaliri sungai dalam surgaNya! Agar para malaikat tahu betapa indahnya persahabatan yang telah kita rajut dalam kefanaan!………

(sesaat hening……….kemudian phone sel berbunyi..berulang,…. berdering lagi yang keduakalinya barulah diangkat.)

..ya hallo,…(”hallo Dara,..maaf mengganggu,..”.) oh,..ada apa Bu?..(”kamu seperti sedang sakit Dara?”)..oh enggak Bu, aku baik-baik saja kok!, ada apa Bu? (”enggak Ibu Cuma mau kasih tahu kamu, tadi ibu diam-diam memasukan surat ke dalam tas kamu, ini ibu lakukan karena permintaan dari Rene, supaya surat wasiatnya itu dibaca oleh kamu Dara setelah satu minggu Rene pergi..”.)…hallo,….hallo!!…hallo ibu!…

(sambungan telepon terputus).

Aneh apa maksud ibunya Rene?….

(sambil bergegas mengambil tas)

…mana yah surat yang di maksud ibunya rene itu?….

(sibuk mencari surat didalam tas)

…..oh.ini rupanya…

(dengan muka penuh pertanyaan sambil membuka surat dan kemudian membacanya, dengan suara berat!)

”….dara, sebelumnya…aku minta maaf atas segala dosa dan salah ku dalam setiap peristiwa yang telah ku lalui sepanjang perjalanan hidupku!. Ini tidak terlepas dari betapa rapuhnya aku sebagai manusia!. Terkadang aku ingin mengungkapkan semua apa yang telah aku lakukan, tapi aku tak sanggup!…sungguh,..dara aku ibarat daun kering kerontang yang sudah tidak memiliki kebanggaan lagi akan hidup!.
(oh…tidak rene,…kamu selalu menjadi teman dalan hati dan pikiranku, sahabat sejati sanubariku, dan saudara dalam kehidupan fana! Mengapa kamu berpikiran seperti itu?)
Dara,….aku telah sesak oleh perasaan palsu dalam setiap detak nadi yang berdenyut didalam ruang bathinku!, seakan terjal,..menggunung,…berkelok-kelok ,…walau akhirnya berujung dimuara penyesalan yang teramat dalam…,tapi ini terjadi karena dangkalnya aku memandang cakrawala keinginan,
(sunguh rene, kamulah yang selalu menggugah pikiranku dengan celoteh bijakmu yang kamu adopsi dari;socrates, aristoteles, descrates, shakesphere,….kamu yang selalu mengajari aku dengan beragam pemikiran bijak! .)
Dara tidaklah adil jika aku memendam apa yang selama ini menjadi hasrat terpendam dalam sisi gelap keangkuhanku akan dirimu yang begitu setia menemani setiap jengkal perjalanan yang telah terajut, …dan sungguh naif jika apa yang telah kulakukan diperbatasan kesadaran antara kejujuran dan kemunafikan,…..ijinkan aku untuk mencurahkan segala penyesalan dalam gurat-gurat tulisan ini yang kuyup oleh linangan air mata penyesalan yang abadi,…..bukanlah hendak aku mentelorir apa yang telah aku perbuat atas kesetiaan dirimu!, bukan …sungguh bukan itu maksudku Dara!..
(apa maksudmu rene??aku menjadi tambah tidak mengerti akan jalan pikiranmu!! Beri aku penjelasan untuk mengerti apa yang sebenarnya terjadi!!)
Mungkin ini diluar kehendakmu!, dan akupun tak ingin berkehendak atas apa yang telah aku lakukan!!,…..dari mana aku harus memulai cerita nyata dalam perjalanan hidupku? Sepertinya semua kata dan kalimat tak sanggup aku rangkaikan lagi!…semuanya membiru,…kelam dan getir!!….seolah tertimbun oleh dosa yang menggunung!! Dan aku selalu bertanya apakah pengakuan yang akan aku ungkapkan ini akan diterima oleh sahabatku yang terbaik selama hidupku??,…dan apakah aku akan sanggup menghadapi kenyataan pahit yang akan aku terima dari sahabat terbaiku??,..sungguh aku mencoba mengambil keputusan untuk melakukan ini!, agar segala penyesalan dan dosa ku takan terbawa hingga ke batas kehidupan nyata yang membentang yaitu kematian!!!
(dengan muka yang berkerut penuh tanda tanya dara menangis gundah…)
Dara sahabat ku! Aku sudah siap atas hukuman yang akan kau jatuhkan padaku apapun itu!! Sungguh dara! Hukumlah aku agar aku tenang menjalani proses kematian dengan tenang dan lega atas hukuman yang akan kau jatuhkan padaku!…….. ”Sebenarnya aku telah melakukan perselingkuhan dengan kekasihmu!! Tapi…..Dalam hal ini bukan dia yang bersalah! … semuanya berawal dari diriku yang hina dan penuh dengan gejolak nafsu atas lelaki, termasuk kekasihmu Satrio. Sebelumnya maafkan dia karena dia sudah terjebak oleh nafsu dan keinginan atas kemauanku!…yah..sungguh dara semuanya berawal dari diri ku!! Dan ketika aku tulis surat ini terasa olehku bahwa apa yang telah aku lakukan adalah penghianatan atas sucinya persahabatan kita!!! Aku sudah tak sangup lagi menanggung beban penderitaan bathin yang berkecamuk didalam kalbuku! Semuanya menjadi berat kala aku melangkah untuk sekedar berucap maaf padamu Dara!, selagi aku masih hidup!. Dan aku merasa penyakit didalam tubuhku merupakan salah satu hukuman buat ragaku yang telah menjadi objek penderita dari jiwaku yang liar dan keji atas segala keinginan yang bermuara dari pikiran kotorku atas lelaki!!!.

(sambil meremas penuh kekesalan pada kertas surat yang sedang dibaca!!, kemudian bangkit berdiri) .

”Sudah!”…..”cukup…cukup!!!” ”gila…” ”semuanya telah gila!!”…kini aku harus bagaimana??? ……tega sekali kamu Rene!….., tak habis pikir aku !….mengapa kamu tega!!,.. kamu anggap apa aku selama ini?… tidakah kamu lihat? Begitu banyak kejadian indah yang telah kita lewati bersama??, suka dan duka kehidupan walaupun sebagian telah kita raup didunia ini!! Oh…………..dimana rasa yang tulus itu kini berada??? Jawab Rene!!…jawab!!!! haruskah kamu sembunyi di alam lain ketika aku butuh jawaban atas apa yang telah kamu perbuat pada diriku?… haruskah aku lalui perbatasan antara hidup dan kematian agar aku dapat bertemu dengan kamu?? Lalu ….apakah kamu siap secara langsung berhadapan dengan aku untuk meluruskan permasalahan ini???….gila…semuanya sudah gila!!!!

(menangis sambil merobek surat,kemudian …dengan lirih berucap)

…..baiklah,..baiklah mungkin semua ini salahku!..terlalu percaya,..terlalu berlebihan,…dan sangat naif, mungkin!!. Segalanya menjadi percuma untuk disesali!, percuma untuk di tangisi!……, tapi aku ini manusia biasa yang menangis bila sakit dan sedih terlampau dalam! Aku pun dapat tersenyum bila mendapat senang seperti waktu yang telah aku lalui selama ini. Kini …semuanya tinggal puing-puing asa yang masih tersisa, ….biarlah perjalanan yang tinggal sepenggal ini aku sisakan untuk kenangan manis sedikit pahit, aku tenggelam dalam keterasingan cinta yang melilit dalam jiwa terdalam

(berdiri , agak terhuyung,…..lalu berucap…)

………,Rene………….Rene,……………..Rene……….tunggu aku!!!!!!

Lampu fade out…….., closing.

……………..end………………….

NASKAH MONOLOG”DUNIA DALAM KOIN”

MONOLOG

DUNIA DALAM KOIN

EKA P KUSUMAH

Tampak seorang anak muda sedang membaca sebuah buku (kadang didekatkan kewajahnya, kadang dijauhkan terus berulang-ulang dan akhirnya buku itu dimasukan kedalam bajunya)

Rasanya sudah lama aku mencoba untuk mengerti apa isi buku ini, bahkan lebih lama dari yang aku ingat. Tapi tetap saja tak ada satupun yang menempel dalam benak, pusing! Tiada banding!. Ah lebih baik kucoba untuk berdialog dengan buku ini dari hati kehati siapa tahu dia dapat menerima keluh kesahku.

Sambil mengusap buku didalam bajunya penuh kelembutan

Wahai jiwa yang ada dalam buku ini mengertilah tentang apa yang aku bicarakan padamu, dengar dan dengarlah! Mungkin kau sudah bosan dengan telunjuku ini yang sekian lama membuka helai demi helai isi perutmu hanya untuk seteguk ilmu untuk melicinkan serabut otak dalam kepalaku agar tidak kaku dan lemah karena kurang vitamin. Coba kamu telaah setiap serabut dalam otakku yang bermiliar-miliar jumlahnya, setiap hari nyaris tidak pernah tidur karena banyaknya peristiwa, kejadian dan perintah yang berasal dari mata, mulut, lidah, hidung dan kawan-kawannya yang memintanya untuk menterjemahkan  tentang apa saja yang tertangkap dan terekam.

Diluar pangung terdengar suara radio yang frekuensinya diputar secara acak sehingga menghasilkan suara yang gaduh dan tidak beraturan karena diputar secara cepat antar gelombang frekuensi.

(sambil menungging dan kedua tangannya meraih bagian belakang kepalanya hingga tertunduk)

Sudah….sudah berhenti!! Kejam sekali rasanya!, beku pikiranku!, habis sudah tenaga ku!, kapan aku dapat yang selama ini kamu janjikan!, kapan? Tidak hari ini katamu?, lalu kapan lagi janjimu itu kau penuhi? Lihat aku mulai sekarat karena telah melahap apa yang kau jejalkan dalam kepalaku! Mulai dari pilihan yang banyak tapi terbatas, hasrat yang tak berujung, pengorbanan palsu, obral janji yang busuk sebusuk sampah dalam tong sampah di depan pasar itu!, cih!!….aku tak sudi lagi jadi budak mu! Ayo cepat lah kau keluar dari sesaknya serabut dalam otak ku! yang serasa akan pecah terburai, oh aku sudah tak tahan lagi!. Bagaimana kau mengintimidasi pemikiranku, menghujat tentang keakuanku, mengkoyak-koyak dinding-dinding kesadaranku hingga nalarku terkubur oleh timbunan kata-katamu yang melilit bertumpuk tumpuk saling tumpang tindih sampai membumbung , semerawut tanpa keberaturan, mengunciku dalam ruang sepi, tanpa warna, kaku, tanpa bau, tanpa awal dan tak berakhir hingga aku sadar dalam ketidaksadaran, mati dalam keadaan hidup.oh….dimana sang pengasih,..dimana kebenaran…..

Duduk terkulai lemah (musik mengeksplorasi keadaan ruang yang hening dan gaduh)

Sebenarnya dia bukan sipa-siapa, datang dari aras yang jauh,  bukan saudara ataupun family,dia datang menghembuskan angin surga tentang sesuatu yang dapat mengubah aku menjadi megaloman, YA MEGALOMAN yang dapat menguasai dunia! Tapi dengan syarat, aku harus membunuh! Lantang aku jawab wah aku tak sanggup dengan syarat itu, jangankan suruh membunuh mansia membunuh semutpun akau tak kuasa karena bagaimanapun semut juga memiliki hak yang sama tentang hak untuk hidup, hak untuk mendapatkan posisi dan hak-hak lain yang berhubungan dengan insting naluriah. Oh…bukan membunuh yang seperti itu anak muda!, katanya, tapi kau harus membunuh semua pertanyaan yang ada dalam kepalamu, kau harus membunuh rasa ingin tahumu, dan kau harus membersihkan semua pikiran-pikaran besar dan kecilmu untuk mengetahui sesuatu! Lalu aku tanya mengapa harus begitu?  Diam!! jangan kau berbicara sebelum aku persilahkan! ini aturanya mengerti? Katanya dengan suara keras!.

Berdiri dengan agak terhuyung…lalu menirukan sosok arogan…

Masih banyak hal – hal lain dalam peraturan ku yang harus kau penuhi sebelum kau menjadi megalomania, nah kau dengar itu suara riuh rendah itu, mereka adalah pengikut setiaku, dalam jiwa mereka sudah dibuang habis apa itu yang namanya pengertian, kebijaksanaan, keadilan, kearifan, pemikiran, kemanusiaan, ilmu dan apapun yang berhubungan dengan itu, semuanya telah kubeli dan kuganti dengan koin kepalsuan yang menjadi ruh dan semangatku!. Dan aku telah siapkan untuk setiap diantara mereka yang mampu melakukan aturanku yaitu MA-TE-RI, yang menunjukan peringkat mereka bahwa mereka telah menjadi budak A-R-O-G-A-N. Mereka semua telah datang padaku dengan meninggalkan KEHAKIKIANnya sebagai manusia!, dan itu yang ku inginkan darimu!. Sudah tidak ada jalan untuk kembali lagi!. Kamu harus menjadi manusia tanpa prikemanusiaan, dan tentunya harus arogan seperti aku, ha.ha…ha.!!!

Lampu fadeout,…. suasana menjadi terang kembali, tampak anak muda sedang duduku sambil memegang keningnya!

Oh… (mengambil nafas panjang dan dalam) kini aku sudah tidak bisa menghindar dari kekuasaannya si AROGAN, apakah aku sudah menjadi budaknya? Oh tidak,.tidak mungkin aku menjadi budaknya!. Sudah berulangkali aku menolak tentang pembaptisan atau apapun namanya upacara tersebut, yang jelas aku menolak mentah-mentah apapun yang selalu diucapkan oleh si arogan!.

Tapi,….mengapa tepian dalam benakku selalu saja kacau, tidak pernah aku fokus terhadap sesuatu, aku merasa cahaya-cahaya didalam tabung kaca itu mengunciku dalam keterasingan, mengendalikan aku ketika aku tidur, sehingga tidurku terasa tidak nyenyak!. Cahaya-cahaya itupun sering sekali mempermainkan akal dan pikiranku!, sudah tak mampu lagi aku mengingat tentang budipekerti yang selalu bunda ajarkan, tentang jiwa kesatria yang selalu ayah ajarkan padaku, sudah hampir terhapus semuanya didalam ruang memori  otaku yang selalu kejang, keram dan membiru memar di sengat cahaya dalam tabung itu. Oh buku-buku ini pun sudah tidak sanggup masuk kedalam benaku yang sesak oleh tumpukan-tumpukan ketidak tahuan, gumpalan-gumpalan keraguan akan apapun, dan kerlap-kerlip kemalasan yang memenjarakan semua destiniku!.

Musik menggambarkan kebekuan rung, keputusasaan berkepanjangan (lightingfade in)

Anak muda  berdiri sambil mengendong guling kecil seperti bayi.

Timang-timang anaku sayang sudah besar jangan jadi megalomania!, Timang-timang anaku sayang sudah besar jangan jadi raja goda!, Timang-timang anaku sayang sudah besar jangan jadi sumpah serapah, jangan menjadi riuh rendah ketidak pastian!,tugasmu menanti di aras sana. Hancurkan kebekuan bunda yang tak berujung…., kibarkan benderamu dengan gagah seperti gunung yang menacap sampai diperut bumi!  Cep….cep…cep anaku!, simpan airmatamu untuk jiwa-jiwa yang kering akan kejujuran nurani. Simpan tangismu untuk keharuan abadi dalam kepalsuan jaman yang menjerat seperti lilitan rantai tanpa ujung!

Sekarang tidurlah dalam buaian sang kekasih dengan ditemani nyanyian rembulan dan alunan simfoni gemintang yang kerlipnya menyapu berlaksa kegundahan.

Bermimpilah dikerajaan nyata dimana disana masih banyak kata yang bermakna, masih mengalir dengan derasnya air kemurnian tentang bagaimana budi perkerti di tempa dengan ketulusan nurani, dan itulah senjata yang akan mampu mengalahkan si AROGAN!. Titip salam dari bunda buat kebijaksanaan dan maha ilmu kepastian.

Dengan nada yang mengalun pelan menyanyikan buaian kasih, ia pun tertidur

Lighting fade out.

Selesai.

the “author” ; eka priadi kusumah

MUSIK TEORI SEBUAH PENGANTAR

Teori musik

EKA P KUSUMAH.

  1. Musik dalam keseharian kita menjadi sebuah peristiwa seni yang ”lumrah”, akan tetapi ketika kita membicarakan musik sebagai medium seni (dalam telaah seni) menjadi sesuatu yang tidak ”lumrah” lagi. Banyak pertanyaan seputar musik yang tidak mudah untuk didefenisikan, dalam hal ini penulis mencoba menelaah musik dari sudut pandang teori musik. Ini sangat penting untuk dipahami! Sebab tanpa pengetahuan dasar musik yang komprehensif tentu siapapun menjadi sukar untuk memahami fenomena musik secara teoritis!. Sumber-sumber didapat dari berbagai buku dan seminar musik baik tingkat nasional maupun internasional, semoga bemanfaat!.

Teori musik merupakan cabang ilmu yang menjelaskan unsur-unsur dalam musik. Cabang ilmu ini mencakup pengembangan dan penerapan metode untuk menganalisis maupun menggubah musik, dan keterkaitan antara notasi musik dan pembawaan musik.

Hal-hal yang dipelajari dalam teori musik mencakup aspek-asek penting dalam musik misalnya suara, nada, notasi, ritme, melodi, Kontrapung Musik, harmoni, Bentuk Musik, Teori Mencipta Lagu, komposisi musik dll.

Juga musik dipelajari dari telaah dibalik musik tersebut (telaah antropolgi, psikologi, sosial, budaya dll) cabang ilmu ini dinamakan ”Ethnomusicologi”. Ethnomusicologi juga menelaah aspek musik dari sudut pandang teori barat dan budaya lokal yang melahirkan konsep musik dalam suatu komunitas budaya. Baik secara analisis kegunaan dan fungsi dari musik tersebut!.

Komposisi musik

dapat digunakan dalam 2 pengertian:

Pertama komposisi adalah potongan musik (komposisi berarti “menaruh bersama”, sehingga komposisi ialah sesuatu di mana catatan musik ditaruh bersama). Ketika menulis potongan musik, berarti seorang komponis sedang membuat komposisi musik.

Kedua kata komposisi dapat pula berarti mempelajari kecakapan bagaimana menyusun musik. Calon pemusik dapat menempuh pendidikan di sekolah musik untuk belajar komposisi. Mereka akan melakukannya dengan memandang pada potongan musik terkenal untuk melihat bagaimana seorang komponis dahulu menulis musik. Mereka akan belajar bentuk musik, harmoni, orkestrasi, nada pengiring, dan segala hal tentang alat musik dan bagaimana menulisnya dengan baik agar menghasilkan suara merdu.

Lagu

Lagu merupakan gubahan seni nada atau suara dalam urutan, kombinasi, dan hubungan temporal (biasanya diiringi dengan alat musik) untuk menghasilkan gubahan musik yang mempunyai kesatuan dan kesinambungan (mengandung irama). Dan ragam nada atau suara yang berirama disebut juga dengan lagu.

Lagu dapat dinyanyikan secara solo, berdua (duet), bertiga (trio) atau dalam beramai-ramai (choir). Perkataan dalam lagu biasanya berbentuk puisi berirama, namun ada juga yang bersifat keagamaan ataupun prosa bebas. Lagu dapat dikategorikan pada banyak jenis, bergantung kepada ukuran yang digunakan.

Suara

Teori musik menjelaskan bagaimana suara dinotasikan atau dituliskan dan bagaimana suara tersebut ditangkap dalam benak pendengarnya. Dalam musik, gelombang suara biasanya dibahas tidak dalam panjang gelombangnya maupun periodenya, melainkan dalam frekuensinya. Aspek-aspek dasar suara dalam musik biasanya dijelaskan dalam tala (Inggris: pitch, yaitu tinggi nada), durasi (berapa lama suara ada), intensitas, dan timbre (warna bunyi).

Nada

Suara dapat dibagi-bagi ke dalam nada yang memiliki tinggi nada atau tala tertentu menurut frekuensinya ataupun menurut jarak relatif tinggi nada tersebut terhadap tinggi nada patokan. Perbedaan tala antara dua nada disebut sebagai interval. Nada dapat diatur dalam tangga nada yang berbeda-beda. Tangga nada yang paling lazim adalah tangga nada mayor, tangga nada minor, dan tangga nada pentatonik. Nada dasar suatu karya musik menentukan frekuensi tiap nada dalam karya tersebut.

Ritme

Ritme adalah pengaturan bunyi dalam waktu. Birama merupakan pembagian kelompok ketukan dalam waktu. Tanda birama menunjukkan jumlah ketukan dalam birama dan not mana yang dihitung dan dianggap sebagai satu ketukan. Nada-nada tertentu dapat diaksentuasi dengan pemberian tekanan (dan pembedaan durasi).

Notasi

Notasi musik merupakan penggambaran tertulis atas musik. Notasi musik yang kita kenal ada dua jenis yaitu notasi angka (solmisasi) dan notasi balok. Dalam notasi balok, tinggi nada digambarkan secara vertikal sedangkan waktu (ritme) digambarkan secara horisontal. Kedua unsur tersebut membentuk paranada, di samping petunjuk-petunjuk nada dasar (key signature), tempo, dinamika, dan sebagainya.

Melodi

Melodi adalah serangkaian nada dalam waktu. Rangkaian tersebut dapat dibunyikan sendirian, yaitu tanpa iringan, atau dapat merupakan bagian dari rangkaian akord dalam waktu (biasanya merupakan rangkaian nada tertinggi dalam akord-akord tersebut).

Harmoni

Harmoni secara umum dapat dikatakan sebagai kejadian dua atau lebih nada dengan tinggi berbeda dibunyikan bersamaan, walaupun harmoni juga dapat terjadi bila nada-nada tersebut dibunyikan berurutan (seperti dalam arpeggio). Harmoni yang terdiri dari tiga atau lebih nada yang dibunyikan bersamaan biasanya disebut akord.